banner 728x250

Perhutani Perketat Pengawasan Hutan Garut, Puluhan Petugas Disiagakan Cegah Kebakaran

banner 468x60

Berita-24today.co.id || GARUT — Kebakaran hutan masih menjadi salah satu ancaman serius di sejumlah kawasan hutan Kabupaten Garut, terutama saat musim kemarau panjang. Kondisi vegetasi dan rerumputan yang mengering membuat kawasan hutan lebih mudah terbakar apabila terjadi percikan api.

Wakil Administratur Perhutani terkait wilayah Kabupaten Garut, Ucu Juarsah, mengatakan dalam beberapa waktu terakhir memang terdapat kebakaran hutan di sejumlah titik. Namun, seluruh kejadian tersebut sejauh ini dapat ditangani dan dipadamkan berkat koordinasi antara petugas Perhutani dengan berbagai pihak terkait.

Example 300x600

“Memang ada beberapa titik kebakaran hutan. Alhamdulillah selama ini kebakaran yang terjadi dapat kita padamkan bersama pihak-pihak terkait, baik Pemerintah Daerah, Pemadam Kebakaran, BPBD, BKSDA maupun CDK. Kami selalu berkoordinasi apabila terjadi kebakaran di wilayah hutan Kabupaten Garut,” jelas Ucu saat ditemui di kantornya, Kamis (10/9/2026).

Menurut Ucu, salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab kebakaran adalah kelalaian manusia. Beberapa di antaranya seperti membuang puntung rokok sembarangan, membuang sampah, hingga aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan dengan cara membakar.

“Biasanya akibat kelalaian kita semua. Bisa dari puntung rokok, membuang sampah sembarangan, dan yang paling besar biasanya membuka lahan kemudian membakar lahan bukaan. Kejadian seperti itu umumnya bermula dari tanah milik masyarakat kemudian api menyebar ke kawasan hutan,” ungkapnya.

Musim Kemarau Tingkatkan Risiko Kebakaran

Ucu menjelaskan, musim kemarau yang cukup panjang turut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran. Rumput dan vegetasi yang mengering menjadi material yang mudah terbakar sehingga api dapat dengan cepat menjalar.

“Kemarau yang sangat panjang membuat rumput-rumput menjadi kering sehingga gampang terbakar. Ini baru dugaan kami, tetapi yang paling penting kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan di sekitar kawasan hutan. Selain puntung rokok, benda-benda tertentu seperti pecahan kaca juga perlu diwaspadai karena dalam kondisi tertentu dapat memfokuskan sinar matahari dan berpotensi memicu panas pada material mudah terbakar.

“Bukan hanya puntung rokok, tetapi membuang sampah juga harus dihindari. Apalagi bekas potongan kaca. Masyarakat di sekitar hutan kami minta tidak membuang sampah sembarangan,” tegasnya.

Kebakaran Cikuray dan Malangbong Berhasil Ditangani

Salah satu kebakaran yang sempat terjadi berada di kawasan Gunung Cikuray. Berdasarkan penanganan di lapangan, luas area yang terdampak kebakaran di lokasi tersebut diperkirakan sekitar dua hektare.

“Kebakaran di kawasan Gunung Cikuray kurang lebih sekitar dua hektare. Itu kami tangani bersama pihak-pihak terkait yang ikut membantu melakukan pemadaman,” ujar Ucu.

Kebakaran juga terjadi di wilayah Malangbong dengan luasan sekitar 0,1 hektare. Secara keseluruhan, Ucu menyebut luasan kawasan hutan yang terdampak kebakaran di sejumlah titik mencapai sekitar empat hektare.

Meski demikian, seluruh titik kebakaran tersebut berhasil ditangani sehingga api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

“Kalau ditotal, kurang lebih sekitar empat hektare. Alhamdulillah seluruhnya dapat kami atasi,” katanya.

29 KRPH dan 40 Mandor Disiagakan

Untuk mencegah kebakaran kembali terjadi, Perhutani melakukan pengawasan secara rutin. Petugas diterjunkan ke lapangan setiap hari untuk memantau kondisi kawasan hutan sekaligus berkomunikasi dengan masyarakat sekitar.

“Kami dari Perhutani memiliki petugas yang turun ke lapangan setiap hari untuk memantau dan mengawasi hutan. Kami khawatir terjadi lagi kebakaran, sehingga petugas di lapangan dapat segera berkoordinasi dengan kantor maupun masyarakat sekitar,” jelas Ucu.

Ia menyebutkan terdapat sekitar 29 orang KRPH yang masing-masing memiliki wilayah kerja serta sekitar 40 orang mandor yang melakukan pengawasan dan penjagaan di lapangan.

“Mandor ini yang selalu melakukan pemantauan. Mereka siap menjaga dan memantau kondisi kawasan selama 1×24 jam,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan petugas di lapangan menjadi bagian penting dalam upaya deteksi dini. Jika ditemukan indikasi kebakaran, petugas dapat segera memberikan informasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan pemadaman.

Pemantauan Juga Menggunakan Teknologi

Selain pengawasan secara langsung, petugas juga dibekali sistem pemantauan berbasis aplikasi untuk membantu mendeteksi potensi kebakaran hutan.

“Kami dari Polhut Kabupaten Garut selain melakukan pemantauan di lapangan juga dibekali aplikasi yang bisa membantu memantau apabila terjadi atau akan terjadi kebakaran hutan. Salah satunya melalui aplikasi SiPongi,” terang Ucu.

Dengan dukungan teknologi tersebut, petugas dapat melakukan pemantauan secara berkala terhadap kondisi kawasan yang memiliki potensi terjadinya kebakaran.

Ekosistem Masih dalam Kondisi Terkendali

Terkait dampak kebakaran terhadap ekosistem hutan, Ucu mengatakan secara umum kondisi pohon di kawasan yang terdampak masih aman. Sebagian vegetasi memang sempat terbakar, namun api dapat segera dipadamkan sehingga dampaknya tidak meluas.

“Untuk pohon, alhamdulillah secara umum aman. Memang ada yang terbakar, tetapi dapat kami atasi dan segera dipadamkan dengan bantuan masyarakat serta petugas di lapangan,” katanya.

Perhutani, lanjutnya, juga telah menyiapkan berbagai peralatan untuk mendukung penanganan apabila terjadi kebakaran hutan.

Namun, apabila kebakaran terjadi dalam skala luas dan membutuhkan sumber daya lebih besar, pihaknya akan segera meminta dukungan dari instansi terkait seperti Pemadam Kebakaran, BPBD, BKSDA dan CDK.

Masyarakat Diminta Jadi Garda Terdepan

Ucu menegaskan bahwa pencegahan kebakaran hutan tidak dapat hanya dibebankan kepada petugas. Peran masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan sangat penting, terutama dalam mencegah aktivitas yang berpotensi menimbulkan api.

Ia meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau asap di kawasan hutan.

“Kalau terjadi kebakaran hutan, tolong segera informasikan kepada kami. Para petugas kehutanan siap membantu dan kami akan segera melakukan penanganan,” ucapnya.

Ucu kembali mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kawasan hutan Kabupaten Garut.

“Mari kita jaga hutan kita bersama-sama. Jangan sembarangan membuang puntung rokok, jangan membuang sampah sembarangan, dan jangan membuka lahan dengan cara membakar. Hutan ini milik kita bersama dan harus kita jaga agar tidak terjadi kebakaran yang lebih besar,” pungkasnya.

Catatan Redaksi:

Kebakaran hutan tidak selalu bermula dari api besar. Sebatang puntung rokok, pembakaran lahan yang tidak terkendali, maupun kelalaian membuang benda yang mudah memicu api dapat menjadi awal kerusakan kawasan hutan. Karena itu, pengawasan petugas harus berjalan beriringan dengan kesadaran masyarakat. Pencegahan jauh lebih penting daripada menunggu api membesar dan baru kemudian melakukan pemadaman.(Rus)

Loading

banner 325x300
Penulis: Rus86
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *