banner 728x250

Festival Batu Penggilingan IV Gelar Lomba PBB PPSU se-Jakarta Timur, Dorong Disiplin dan Kekompakan Pasukan Oranye

banner 468x60

Berita-24today.co.id || JAKARTA — Rangkaian Festival Batu Penggilingan IV resmi dimulai dengan menggelar lomba Peraturan Baris-Berbaris (PBB) bagi petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) se-Jakarta Timur. Sebanyak 20 tim PPSU dari sejumlah kelurahan mengikuti perlombaan yang menitikberatkan pada kekompakan, kedisiplinan, ketepatan waktu, dan kerja sama tim.

PPSU yang selama ini dikenal masyarakat sebagai Pasukan Oranye menunjukkan kemampuan mereka dalam baris-berbaris di Cagar Budaya Batu Penggilingan, Jalan Kalibuaran, Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

Example 300x600

Lomba tersebut menjadi bagian dari rangkaian tahunan Festival Batu Penggilingan yang tahun ini memasuki penyelenggaraan keempat. Kegiatan tidak hanya mengangkat sejarah kawasan Batu Penggilingan, tetapi juga mendorong penataan lingkungan, kepedulian terhadap kebersihan, serta pelestarian budaya.

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PAN Komisi B, Syahroni, S.E., yang merupakan penggagas Festival Batu Penggilingan, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar memiliki dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Tujuannya adalah membangun disiplin, membangun wilayah dan lain-lain. Salah satunya tahun ini yang menjadi fokus kita adalah pemilahan sampah dari sumbernya,” ujar Syahroni.

Menurut dia, lomba PBB diikuti sekitar 400 peserta yang berasal dari 20 kelurahan di tiga kecamatan, yakni Cakung, Matraman, dan Pulogadung.

Syahroni mengatakan lomba PBB bukan sekadar ajang kompetisi. Kegiatan itu diharapkan dapat meningkatkan kedisiplinan dan kekompakan para petugas PPSU dalam menjalankan tugas sehari-hari.

“Tujuannya adalah memberikan rasa disiplin kepada mereka, tepat waktu dan kekompakan dalam tim. Tidak ada momok dari masyarakat bahwa PPSU kita latih dan kita didik supaya melalui kegiatannya semakin baik,” katanya.

Selain lomba PBB, rangkaian Festival Batu Penggilingan IV juga diisi dengan kegiatan penataan lingkungan. Warga bersama petugas PPSU akan melakukan pembersihan kawasan sepanjang bantaran kali, merapikan lingkungan, menghias gang, serta menata sejumlah titik yang menjadi ruang interaksi masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari lomba pemilahan sampah dari sumbernya. Upaya itu sejalan dengan perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap persoalan sampah dan kebersihan lingkungan.

Syahroni berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah festival selesai.

“Harapannya setelah kegiatan ini teman-teman bisa baris-berbaris lebih rapi, lebih disiplin. Kemudian lingkungan sendiri menjadi rapi, bersih dan tertata,” ujarnya.

Ketua Panitia Festival Batu Penggilingan IV, Ustaz Muhammad Sehu atau Suhe, mengatakan lomba PBB menjadi kesempatan bagi petugas PPSU untuk menunjukkan keterampilan yang selama ini jarang ditampilkan kepada masyarakat.

“Hari ini ada kegiatan perlombaan PBB Jakarta Timur dalam rangka Festival Batu Penggilingan ke-4. Kita undang PPSU untuk menampilkan keterampilan-keterampilan berbarisnya. Selama ini mereka bekerja, sekarang kita tunjukkan juga kepada masyarakat bahwa mereka bisa berbaris,” kata Suhe.

Ia menyebut perlombaan diikuti 20 peserta yang berasal dari kelurahan di wilayah Cakung, Matraman, dan Pulogadung. Panitia juga menyiapkan hadiah dari para pendukung dan sponsor sebagai bentuk apresiasi kepada para peserta.

“Ini menunjukkan prestasi. Mudah-mudahan tahun depan penampilannya bisa lebih baik lagi. Tahun ini mereka mencoba untuk pertama kali, insyaallah ke depan bisa lebih baik lagi,” ujarnya.

Festival Batu Penggilingan IV sendiri akan berlangsung selama dua hari dan dilanjutkan dengan sejumlah kegiatan masyarakat. Selain aksi kebersihan dan penataan lingkungan, festival juga menghadirkan bazar UMKM, pentas seni budaya, hadrah, lomba rebana, serta berbagai kegiatan lainnya.

Festival Batu Penggilingan merupakan agenda tahunan yang digelar di kawasan Cagar Budaya Batu Penggilingan. Kawasan tersebut menyimpan sejarah industri gula pada masa lampau dan menjadi bagian penting dari identitas Kelurahan Penggilingan.

Suhe berharap festival dapat menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap situs bersejarah tersebut sehingga keberadaannya tetap terawat hingga generasi mendatang.

“Kita berharap masyarakat merasa memiliki Batu Penggilingan yang bersejarah ini dan bisa memeliharanya sampai anak cucu kita untuk dilestarikan,” kata Suhe.

Ia menegaskan, nama Penggilingan memiliki keterkaitan erat dengan sejarah kawasan tersebut. Batu Penggilingan yang menjadi cagar budaya bukan merupakan tempat penggilingan padi, melainkan bagian dari sejarah penggilingan gula.

Festival Batu Penggilingan IV pun diharapkan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk menggabungkan pelestarian sejarah, kebersihan lingkungan, pemberdayaan UMKM, serta seni dan budaya masyarakat Jakarta Timur.

  • Penulis : S Erfan Nurali
  • Editor : Redaksi

Loading

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *