Berita-24today.co.id || GARUT, Menjelang pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Garut, dinamika internal partai tidak sekadar memanas tetapi mulai menunjukkan gejala krisis kepercayaan yang serius. Polemik yang semula beredar di ruang-ruang tertutup kini pecah ke permukaan, ditandai dengan gelombang penolakan terbuka dari sejumlah Pimpinan Anak Cabang (PAC).
Di tengah situasi ini, tudingan terhadap proses Muscab yang dinilai tidak netral semakin menguat. Sorotan tajam mengarah pada penetapan lokasi kegiatan yang dianggap sarat kepentingan. Sejumlah kader menilai keputusan tersebut bukan sekadar kekeliruan teknis, melainkan indikasi kuat adanya desain politik yang mengarah pada “pengondisian” untuk menguntungkan kandidat tertentu.
Kecurigaan itu bukan tanpa dasar. Lokasi yang dipilih disebut-sebut memiliki keterkaitan langsung dengan salah satu bakal calon ketua, memunculkan pertanyaan serius: apakah Muscab ini masih menjadi forum demokratis, atau justru berubah menjadi panggung legitimasi yang sudah “diatur” sejak awal?
Reaksi keras pun datang dari akar rumput. Ketua PAC Pangatikan menjadi salah satu suara paling lantang yang menolak proses yang dianggap tidak sehat tersebut.
“Ini bukan sekadar soal tempat. Ini soal integritas. Kalau sejak awal sudah ada indikasi diarahkan, maka Muscab ini kehilangan makna demokratisnya. Jangan jadikan forum ini alat untuk mengesahkan skenario segelintir elite,” tegasnya.
Ia bahkan mengingatkan panitia agar tidak mengabaikan suara kader di bawah. Menurutnya, sikap abai justru berpotensi memperdalam konflik internal yang bisa berdampak panjang terhadap soliditas partai.
“Jangan jadikan Muscab sebagai panggung sandiwara politik. Kalau prosesnya cacat, jangan paksa kader untuk diam. Ini bisa meledak jadi konflik terbuka,” ujarnya dengan nada keras.
Informasi yang berkembang menyebutkan, sejumlah PAC lain mulai melakukan konsolidasi dan tidak menutup kemungkinan akan mengambil langkah kolektif sebagai bentuk perlawanan jika tuntutan mereka terus diabaikan. Situasi ini menandakan bahwa persoalan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan telah mengarah pada resistensi terorganisir.
Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, panitia Muscab belum memberikan klarifikasi resmi. Sikap bungkam ini justru memperkuat spekulasi dan kecurigaan di kalangan kader seolah ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi.
Desakan pun menguat agar panitia segera mengambil langkah korektif, termasuk mempertimbangkan pemindahan lokasi ke tempat yang benar-benar netral serta membuka seluruh tahapan proses secara transparan.
Jika dibiarkan, polemik ini bukan hanya berpotensi mengganggu jalannya Muscab, tetapi juga bisa menjadi bom waktu bagi keutuhan internal partai. Dalam politik, krisis kepercayaan adalah awal dari kemunduran. Dan saat kader sendiri mulai meragukan proses di dalam rumahnya, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar jabatan melainkan legitimasi partai itu sendiri.
Penulis : Rus
Editor : S Erfan Nurali













