Berita-24today.co.id || JAKARTA — Koordinator Nasional Loyalis Gibran Indonesia (LoG-In), Maul Gani, menilai dinamika politik dan berbagai kegaduhan yang muncul di ruang publik belakangan ini patut dicermati. Ia menduga, sejumlah isu yang berkembang merupakan bagian dari manuver politik yang diarahkan untuk memengaruhi peta politik menuju 2029.
Menurut Maul, masyarakat perlu melihat secara kritis berbagai opini dan narasi yang berkembang, terutama apabila isu tersebut muncul secara berulang dan membentuk persepsi tertentu terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Segala kegaduhan hari ini cuma panggung settingan. Inti skenarionya sederhana: matikan tiket 2029 Mas Wapres sejak dini,” ujar Maul Gani dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Menurut Maul Gani, munculnya berbagai narasi politik tersebut menunjukkan adanya upaya untuk membentuk opini publik jauh sebelum tahapan kontestasi politik 2029 berlangsung.
Ia menilai, upaya tersebut perlu dihadapi dengan sikap kritis dan tidak reaktif. Menurutnya, setiap tudingan maupun informasi yang beredar di ruang publik seharusnya diuji berdasarkan fakta, data, serta rekam jejak yang dapat diverifikasi.
“Jangan sampai ruang publik dipenuhi narasi yang sengaja dibangun untuk menggiring persepsi masyarakat. Kita harus melihat persoalan secara objektif dan memberikan ruang bagi publik untuk menilai berdasarkan fakta,” katanya.
Maul Gani juga mengimbau para pendukung, relawan, dan elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perjalanan politik nasional agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang.
Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan politik merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun, menurutnya, perbedaan tersebut harus tetap disampaikan secara proporsional, berdasarkan fakta, serta menghormati proses demokrasi dan hukum yang berlaku.
“Rapatkan barisan, tetap tenang, dan jangan mudah terpancing. Yang paling penting adalah menjaga demokrasi tetap sehat dan memastikan setiap persoalan dibahas berdasarkan fakta, bukan sekadar opini atau provokasi,” pungkasnya.(Rus)













