banner 728x250
Berita  

Dari Gimnastik ke Teknologi AI, Ita Yuliati Bangun Ekosistem Olahraga Berbasis Data

banner 468x60

Berita-24today.co.id||JAKARTA — Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai membuka peluang baru dalam pengembangan olahraga dan sport science di Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam gelaran Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Komisaris Utama PT Alita Praya Mitra sekaligus Ketua Umum Federasi Gimnastik Indonesia (FGI), Ita Yuliati, mengungkapkan kolaborasi Alita dengan perusahaan teknologi asal Jepang, Fujitsu, untuk mengembangkan teknologi berbasis AI yang dapat mendukung analisis gerak dan performa manusia.

Example 300x600

Ita menjelaskan, kerja sama tersebut berawal dari keterlibatan Fujitsu dalam mendukung gimnastik Indonesia melalui sistem penilaian kesehatan berbasis teknologi ketika berlangsungnya kejuaraan dunia. Dari kerja sama di bidang olahraga tersebut kemudian muncul peluang untuk mengembangkan teknologi yang lebih luas di Indonesia.

“Fujitsu melihat Indonesia sebagai market yang besar. Mereka juga sudah memiliki pengalaman mendukung national training center di Jepang dengan teknologi ini. Karena itu kami melihat ada opportunity untuk bekerja sama mengembangkan teknologi tersebut di Indonesia,” ujar Ita ditemui di sela-sela Indonesia Sports Summit 2026.

Menurut Ita, teknologi yang dikembangkan bersama Fujitsu tersebut mengandalkan Human Motion Analytics berbasis AI untuk menganalisis gerakan manusia. Teknologi ini dapat membantu membaca postur, fleksibilitas, keseimbangan, hingga pola gerakan secara lebih objektif dan berbasis data.

Teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk atlet. Ita mengatakan, pemanfaatannya juga dapat dikembangkan untuk masyarakat umum, termasuk kelompok lanjut usia. Pengguna dapat melakukan sejumlah gerakan sederhana seperti berdiri, duduk dan berjalan untuk mendapatkan gambaran mengenai postur, keseimbangan serta kemampuan gerak tubuh.

“AI ini bukan ancaman. Menurut kami, AI adalah salah satu tools yang bisa membantu dalam banyak hal, termasuk dalam analitik. Dalam olahraga, teknologi ini bisa membantu melihat bagaimana performance atlet dan bagaimana latihan yang lebih tepat,” katanya.

Ita yang juga memiliki latar belakang sebagai engineer telekomunikasi mengatakan, pengembangan teknologi tersebut sejalan dengan kebutuhan sport science modern. Di Jepang, teknologi serupa telah digunakan untuk mendukung pembinaan atlet di national training center dan dapat diterapkan pada berbagai cabang olahraga.

“Semua sport bisa dianalisis. Golf, baseball dan olahraga lainnya. Kita bisa melihat performance atlet, teknik gerak dan bagaimana program latihan bisa dikembangkan berdasarkan data,” ujarnya.

Selain prestasi olahraga, Ita melihat teknologi tersebut memiliki potensi besar dalam menghadapi meningkatnya populasi lansia. Sebagai bagian dari World Gymnastics, Ita saat ini juga terlibat dalam Aging Society Working Group, sehingga perhatian terhadap fleksibilitas dan keseimbangan lansia menjadi salah satu bidang yang ingin dikembangkan.

Menurut dia, kemampuan menjaga keseimbangan dan fleksibilitas sangat penting bagi lansia, terutama untuk membantu mengurangi risiko jatuh. Karena itu, teknologi analisis gerak dapat menjadi salah satu instrumen pendukung dalam program latihan dan pemantauan kemampuan fisik.

Di bidang pembinaan prestasi, Ita mengatakan FGI terus menjalankan program jangka panjang untuk atlet-atlet muda. Saat ini terdapat empat atlet binaan, terdiri dari dua putra dan dua putri. Dua atlet putra juga dipersiapkan menjalani program latihan di Jepang sebagai bagian dari pembinaan jangka panjang menuju level internasional.

“Kami terus memberikan support dan pelatihan kepada anak-anak didik kami. Sekarang ada empat orang, dua putra dan dua putri. Dua atlet putra akan kembali menjalani training di Jepang sebagai bagian dari program jangka panjang menuju Olimpiade,” jelasnya.

Ita menambahkan, dalam waktu dekat Indonesia juga akan menjadi tuan rumah Asia Gym 4 All di Yogyakarta pada 16–18 Oktober. Kegiatan tersebut merupakan festival gimnastik yang akan diikuti sejumlah negara, antara lain Denmark, Jepang, Sri Lanka, Thailand, Malaysia, Korea dan Indonesia.

Berbagai inisiatif tersebut, menurut Ita, menunjukkan bahwa pengembangan olahraga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Teknologi, dunia usaha, pemerintah, federasi, akademisi dan masyarakat perlu bergerak bersama agar olahraga tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan.

Ia mengapresiasi penyelenggaraan Indonesia Sports Summit 2026 yang dinilai menunjukkan perkembangan signifikan dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Menurut Ita, ISS dapat menjadi ruang strategis untuk mempertemukan berbagai pihak dan memperluas kolaborasi olahraga Indonesia dengan dunia internasional.

“Saya sangat antusias dengan Indonesia Sports Summit. Dari pergerakan tahun lalu ke sekarang terlihat signifikan, baik dari pengunjung maupun partisipasinya. Saya mengapresiasi pemerintah dan Pak Erick Thohir yang sudah membuat acara ini. Mudah-mudahan ke depannya bukan hanya Indonesia yang terlibat, tetapi partisipannya semakin internasional,” pungkasnya.

Loading

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *