Berita-24today.co.id || GARUT, Transformasi lahan tandus menjadi kebun produktif kembali dibuktikan oleh para petani di Kabupaten Garut. Hamparan tanah kering yang sebelumnya dipenuhi batu cadas dan kerikil di kaki Gunung Guntur, tepatnya di Desa Pasawahan, Kecamatan Tarogong Kaler, kini berubah menjadi lahan hijau yang ditanami jagung dan siap memasuki masa panen perdana dalam waktu sekitar tiga minggu ke depan.
Kebun jagung tersebut merupakan bagian dari program demplot (pilot project) seluas kurang lebih 8 hektare. Saat ini, sekitar 4 hektare tanaman jagung telah tumbuh dengan usia mencapai dua bulan setengah, menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan di tengah kondisi lahan yang sebelumnya dianggap tidak produktif.
Koordinator komunitas petani jagung setempat, Samsi, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari pengalaman dan pengetahuan yang ia peroleh saat mengelola lahan serupa di kawasan lereng Merapi, Jawa Tengah. Menurutnya, karakteristik tanah bekas material vulkanik di Merapi memiliki kemiripan dengan kondisi tanah di kaki Gunung Guntur.
“Awalnya banyak yang meragukan karena lahan ini terlihat tidak menjanjikan secara ekonomi. Tapi dengan pendekatan yang tepat dan pengalaman yang kami miliki, lahan seperti ini justru bisa menjadi sumber penghasilan yang bernilai tinggi,” ujar Samsi saat ditemui di lokasi, Minggu (26/04/2026).
Ia menjelaskan, kunci utama dalam mengelola lahan tersebut adalah pemanfaatan pupuk organik yang tepat serta teknik pengolahan tanah yang sesuai. Dalam hal ini, Samsi dan kelompok tani menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada PT Raffles Pacific Harvest yang telah memberikan dukungan berupa pupuk organik dari limbah peternakan sapi perah.
“Alhamdulillah, kami mendapat dukungan dari PT Raffles Pacific Harvest berupa kotoran padat dan urin sapi yang telah diolah menjadi pupuk kompos dan organik. Ini sangat membantu dalam memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kesuburan lahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pupuk yang digunakan telah melalui proses fermentasi sesuai standar pengolahan, sehingga aman dan efektif untuk pertanian. Meski demikian, pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat sekitar apabila sempat tercium bau selama proses distribusi dan pengolahan pupuk.
“Kami sudah berupaya maksimal menekan dampak bau, mulai dari penyemprotan penetral saat pengangkutan hingga proses fermentasi di lokasi. Ini bagian dari komitmen kami agar kegiatan pertanian tetap ramah lingkungan,” tambahnya.
Lebih jauh, Samsi berharap kolaborasi dengan PT Raffles Pacific Harvest dapat terus berlanjut, terutama dalam menjaga ketersediaan pupuk organik untuk pengembangan lahan ke depannya. Ia juga menegaskan pentingnya sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, dinas terkait, hingga unsur TNI/Polri dan masyarakat.
“Kami ingin program ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Harapannya, lahan-lahan tandus lainnya bisa dimanfaatkan, petani lebih sejahtera, dan program ketahanan pangan pemerintah dapat terus diperkuat,” pungkasnya.
Keberhasilan demplot jagung ini menjadi bukti bahwa dengan inovasi, kemauan, serta dukungan dari berbagai pihak termasuk sektor swasta seperti PT Raffles Pacific Harvest, lahan marginal pun dapat diubah menjadi sumber ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat.
Penulis : Rus
Editor : S Erfan Nurali













