BERITA-24TODAY.CO.ID, NAGEKEO, NTT – Reses Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Paulinus Y. Nuwa Veto, di SMK Negeri Ndora, Kabupaten Nagekeo, membuka sejumlah persoalan mendasar yang selama ini dihadapi dunia pendidikan dan masyarakat setempat. Mulai dari nasib tujuh tenaga paruh waktu yang disebut hanya menerima honor sekitar Rp300 ribu per bulan, keterbatasan ruang kepala sekolah dan ruang guru, hingga fasilitas praktik yang terhambat oleh persoalan listrik dan air.
Tak hanya itu, forum tersebut juga mengungkap kebutuhan pengadaan traktor bagi petani, pengembangan tiga kompetensi keahlian di SMKN Ndora, pembangunan lapangan sekolah, akses air bersih, beasiswa mahasiswa kurang mampu, serta bantuan pengembangan usaha sekolah.
Berbagai persoalan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pendidikan di wilayah Ndora bukan semata-mata soal pembangunan gedung, tetapi juga menyangkut kesejahteraan tenaga pendidik, ketersediaan fasilitas pembelajaran, dan keberlanjutan program pengembangan sekolah.
Kegiatan reses dibuka Kepala SMKN Ndora, Klementinus Piru, S.P., serta dihadiri Babinsa Aegela, Penjabat Kepala Desa Ulululu, Ketua dan anggota Komite Sekolah, para guru, pegawai, dan masyarakat.
Dalam pengantarnya, Paulinus menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menghadiri kegiatan tersebut. Ia mengaku senang dapat kembali bertemu masyarakat sekaligus melihat perkembangan SMKN Ndora, termasuk pembangunan sejumlah ruang kelas baru.

Menurutnya, perkembangan lembaga pendidikan perlu terus didukung agar mampu menghasilkan generasi muda berkualitas dan menjadi kader terbaik bagi Kabupaten Nagekeo maupun Provinsi NTT.
RESES BUKAN KAMPANYE, ASPIRASI DIBAWA KE PEMERINTAH PROVINSI
Paulinus menjelaskan bahwa reses merupakan agenda resmi kelembagaan DPRD, bukan kegiatan kampanye politik.
Melalui kegiatan tersebut, anggota DPRD kembali ke daerah pemilihan untuk bertemu masyarakat, menyampaikan informasi pemerintahan, sekaligus menyerap berbagai kebutuhan dan persoalan yang dihadapi warga.
Aspirasi yang dihimpun selanjutnya dituangkan dalam laporan kepada pimpinan DPRD untuk diteruskan kepada pemerintah provinsi agar dapat dipertimbangkan dalam proses perencanaan dan penganggaran sesuai mekanisme serta kewenangan yang berlaku.
Forum dialog di SMKN Ndora pun menjadi ruang terbuka bagi pihak sekolah dan masyarakat untuk menyampaikan persoalan yang selama ini membutuhkan perhatian pemerintah.

TUJUH TENAGA PARUH WAKTU BERTAHAN DENGAN HONOR Rp300 RIBU PER BULAN
Salah satu penyampaian yang menyita perhatian dalam forum tersebut datang dari perwakilan tenaga pendidik. Ia mengungkapkan kondisi tujuh tenaga paruh waktu di SMKN Ndora yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan kesejahteraan.
Menurutnya, setelah dinyatakan sebagai tenaga paruh waktu dan menerima surat keputusan (SK), kondisi mereka belum membaik sebagaimana diharapkan. Bahkan, sejumlah ketentuan dan regulasi justru dirasakan semakin menambah beban.

Ia menyebut, ketujuh tenaga paruh waktu tersebut masih menerima honor sekitar Rp300 ribu per bulan, termasuk hingga Desember 2025.
Meski penghasilan yang diterima sangat terbatas, mereka tetap bertahan menjalankan tugas dan mengabdi di dunia pendidikan.
Dalam forum itu, ia berharap Paulinus Y. Nuwa Veto dapat ikut mengawal kebijakan pemerintah terkait rencana penataan dan pengangkatan tenaga paruh waktu pada 2025
Harapan mereka sederhana: tujuh tenaga yang telah mengabdi sejak awal berdirinya sekolah tidak terabaikan, tidak digeser, dan tetap memperoleh kesempatan dalam proses penataan kepegawaian.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berbicara tentang gedung dan fasilitas. Kepastian status serta kesejahteraan tenaga pendidik juga menjadi bagian penting yang perlu mendapat perhatian.
GURU BELUM S1 BERHARAP MENDAPAT KESEMPATAN MELANJUTKAN PENDIDIKAN
Selain persoalan honor dan kepastian status, perwakilan tenaga pendidik tersebut juga mengusulkan adanya peluang bantuan pendidikan bagi guru yang belum menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1).
Ia berharap pemerintah melalui jalur kewenangan yang tersedia dapat membuka kesempatan bagi para guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1.
Peningkatan kualifikasi akademik dinilai penting agar tenaga pendidik dapat memenuhi persyaratan administrasi dan profesionalisme, termasuk yang berkaitan dengan sistem kepegawaian dan sertifikasi pendidik.
Aspirasi ini menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas dan kapasitas tenaga pengajarnya.
KEPALA SEKOLAH MINTA RUANG KEPALA SEKOLAH DAN RUANG GURU DIPROGRAMKAN KEMBALI PADA 2027
Kepala SMKN Ndora turut menyampaikan sejumlah kebutuhan kelembagaan yang dinilai mendesak untuk mendukung keberlangsungan pelayanan pendidikan.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah belum tersedianya ruang kepala sekolah dan ruang guru yang memadai. Menurutnya, kebutuhan pembangunan kedua fasilitas tersebut sebenarnya pernah diprogramkan oleh Dinas Pendidikan pada tahun sebelumnya.
Namun, hingga kegiatan reses berlangsung, fasilitas tersebut belum tersedia. Akibatnya, pihak sekolah masih harus memanfaatkan ruang kelas untuk menjalankan aktivitas administrasi kepala sekolah dan guru.
Kondisi ini dinilai kurang ideal karena ruang kelas semestinya difungsikan untuk kegiatan belajar mengajar, sementara kepala sekolah dan guru juga membutuhkan ruang kerja tersendiri agar pelayanan administrasi dan koordinasi pendidikan berjalan lebih optimal.
Karena itu, Kepala SMKN Ndora berharap pembangunan ruang kepala sekolah dan ruang guru dapat kembali dimasukkan dalam program pembangunan tahun anggaran 2027.
Ia juga menyampaikan rencana kerja sama melalui program One School One Forum. Pihak sekolah masih menunggu penataan dan penyelesaian perjanjian kerja sama sebagai dasar pelaksanaan program pengembangan tersebut.
Selain itu, sekolah telah menyiapkan tiga proposal usaha yang diharapkan memperoleh perhatian dan dukungan melalui jalur aspirasi maupun program pemerintah sesuai kewenangannya.
TIGA KOMPETENSI KEAHLIAN TERHAMBAT LISTRIK, AIR, DAN FASILITAS
Persoalan lain yang mengemuka adalah keterbatasan sarana dan prasarana untuk mendukung tiga kompetensi keahlian yang dikembangkan SMKN Ndora.
Pihak sekolah menjelaskan bahwa berbagai program praktik dan pengembangan produk unggulan belum berjalan maksimal karena terbentur persoalan mendasar, terutama ketersediaan listrik, air, dan fasilitas pendukung.
Pada kompetensi pengolahan hasil pertanian, sekolah memiliki produk unggulan berupa roti manis. Namun, kegiatan produksi belum dapat berjalan optimal karena peralatan yang digunakan membutuhkan daya listrik memadai.
Kondisi jaringan listrik yang terbatas membuat peralatan praktik dengan kebutuhan daya tertentu tidak dapat dioperasikan sebagaimana mestinya.
Sementara itu, pada kompetensi peternakan, sekolah telah merancang pengembangan usaha ayam petelur. Kandang ayam petelur direncanakan menjadi sarana praktik sekaligus mendukung pengembangan produk unggulan peserta didik.
Namun, keterbatasan anggaran untuk pembangunan kandang membuat rencana tersebut belum dapat direalisasikan secara maksimal.
Adapun pada kompetensi pertanian, sekolah berupaya mengembangkan kegiatan budidaya lobster air tawar. Lagi-lagi, persoalan ketersediaan air menjadi salah satu hambatan utama.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan listrik dan air bukan sekadar persoalan infrastruktur umum, melainkan berdampak langsung terhadap proses pembelajaran praktik, produktivitas, dan pengembangan keterampilan siswa.
Pihak sekolah berharap kebutuhan tersebut mendapat perhatian serius agar ketiga kompetensi keahlian dapat berkembang sesuai tujuan pendidikan vokasi.
KEPALA SEKOLAH BERHARAP TUJUH TENAGA PARUH WAKTU TETAP BERTAHAN DI SMKN NDORA
Selain kebutuhan fasilitas, Kepala SMKN Ndora juga menyampaikan harapan terkait keberadaan tujuh tenaga paruh waktu yang selama ini mengabdi di sekolah tersebut.
Ia berharap para tenaga tersebut tetap dapat bekerja di SMKN Ndora dan tidak dipindahkan ke tempat lain. Menurutnya, perubahan penempatan tenaga yang telah lama menjalankan tugas di sekolah dikhawatirkan dapat mengganggu kesinambungan sistem pelayanan dan proses pendidikan.
Harapan kepala sekolah ini sejalan dengan aspirasi yang disampaikan perwakilan tenaga pendidik mengenai kepastian status dan kesejahteraan mereka.
Dengan demikian, persoalan tujuh tenaga paruh waktu bukan hanya menyangkut honor dan status kepegawaian, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan pelayanan pendidikan di SMKN Ndora.
TRAKTOR BESAR DIBUTUHKAN PETANI
Dalam sesi dialog, Alo Rai menyampaikan aspirasi mengenai kebutuhan alat dan mesin pertanian, khususnya pengadaan traktor besar.
Menurutnya, dukungan alat pertanian sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat mengolah lahan dengan kondisi tanah dan karakteristik wilayah setempat.
Ia berharap pemerintah provinsi maupun para wakil rakyat, termasuk yang berada di tingkat pusat, dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan tersebut.
Ketersediaan traktor diharapkan mampu mempercepat pekerjaan petani, mengurangi beban pengolahan lahan secara manual, serta mendukung peningkatan produktivitas pertanian.
AIR BERSIH NATEMULU DIHARAPKAN MENJANGKAU BEBERAPA DESA
Selain kebutuhan sekolah dan sektor pertanian, persoalan air bersih juga menjadi perhatian peserta reses.
Salah satu peserta mengusulkan agar proyek penyediaan air minum di wilayah Natemulu dapat dikembangkan melalui pendekatan pembangunan lintas desa atau supra desa.
Dengan skema tersebut, pelayanan air bersih diharapkan tidak hanya menjangkau satu wilayah, tetapi dapat diperluas ke dua hingga tiga desa, termasuk kemungkinan menjangkau lingkungan SMKN Ndora.
Namun, ketersediaan listrik menjadi salah satu kendala yang perlu diselesaikan agar sistem penyediaan air dapat beroperasi secara optimal dan berkelanjutan.
Usulan ini sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara kebutuhan listrik dan air. Keduanya bukan hanya diperlukan masyarakat, tetapi juga menjadi penentu keberlangsungan kegiatan pendidikan dan praktik di sekolah.
BEASISWA UNTUK MAHASISWA KURANG MAMPU
Aspirasi bidang pendidikan tinggi disampaikan Aulia Tamilan Dalu, yang memperkenalkan diri sebagai perwakilan Situasi Selection Kalimantan.
Dalam penyampaiannya, Aulia meminta perhatian Paulinus agar melalui program aspirasi dapat dipertimbangkan bantuan biaya pendidikan atau beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Ia berharap keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak Nagekeo untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Dukungan biaya pendidikan dinilai penting untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
LAPANGAN SEKOLAH DAN PENATAAN LINGKUNGAN TURUT DIUSULKAN
Kebutuhan pembangunan fasilitas olahraga juga kembali disampaikan dalam forum tersebut. Pihak sekolah berharap penyelesaian pembangunan lapangan sepak bola dapat menjadi perhatian karena fasilitas itu dibutuhkan untuk menunjang kegiatan olahraga dan pengembangan bakat peserta didik.
Sebelumnya, kebutuhan pembangunan lapangan multifungsi juga telah mengemuka dalam dialog. Fasilitas tersebut diharapkan dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sekolah maupun aktivitas bersama.
Sementara itu, Ferdin mengusulkan pengadaan dan penanaman tanaman bunga di lingkungan SMKN Ndora.
Meski terkesan sederhana, usulan tersebut dinilai dapat mendukung penataan lingkungan sekolah agar lebih hijau, asri, dan nyaman sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
ASPIRASI JANGAN BERHENTI DI ATAS KERTAS
Rangkaian aspirasi dalam reses tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pembangunan di wilayah Ndora cukup kompleks. Persoalannya bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut keberlanjutan pendidikan, kesejahteraan tenaga pendidik, pengembangan pertanian, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Tujuh tenaga paruh waktu yang berharap memperoleh kepastian status dan kesejahteraan, guru yang membutuhkan kesempatan melanjutkan pendidikan S1, hingga siswa yang belum dapat mengoptimalkan praktik karena keterbatasan listrik dan air merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian serius.
Di sisi lain, kebutuhan ruang kepala sekolah dan ruang guru, tiga proposal pengembangan usaha, traktor bagi petani, perluasan akses air bersih, beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu, serta pembangunan fasilitas sekolah juga menjadi bagian dari aspirasi yang disampaikan kepada wakil rakyat.
Memang, tidak seluruh persoalan tersebut berada dalam kewenangan langsung DPRD Provinsi NTT. Namun, melalui fungsi representasi, pengawasan, dan penganggaran sesuai ketentuan, aspirasi masyarakat dapat diperjuangkan melalui koordinasi dengan pemerintah maupun instansi terkait.
Reses telah membuka ruang bagi masyarakat dan pihak sekolah untuk menyampaikan persoalan secara langsung. Namun, ukuran penting dari penyerapan aspirasi bukan semata-mata berapa banyak usulan yang dicatat dalam laporan, melainkan bagaimana usulan tersebut dikawal dan memperoleh tindak lanjut.
Jangan sampai kebutuhan sekolah hanya menjadi daftar panjang dalam dokumen reses, sementara tenaga pendidik tetap bergulat dengan honor yang terbatas, kepala sekolah dan guru belum memiliki ruang kerja yang layak, dan siswa terus menghadapi keterbatasan fasilitas praktik. Masyarakat kini menunggu, sejauh mana suara dari SMKN Ndora dapat diperjuangkan menjadi langkah nyata pembangunan di Nagekeo.
![]()














