Berita-24today.co.id || MEDAN — Sedikitnya 10 spanduk berisi kritik terhadap Kapolrestabes Medan terpasang di sejumlah titik strategis Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (29/10/2026). Spanduk bertuliskan “KAPOLRESTABES STOP PENCITRAAN” itu dipasang Dewan Pimpinan Daerah Pemuda Demokrasi Indonesia (DPD PDI) Sumatera Utara sebagai bentuk protes terhadap kinerja kepolisian.
Spanduk bernuansa hitam-merah tersebut terlihat di sejumlah lokasi, antara lain di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, sekitar Polda Sumut, Jembatan Layang Jalan Gatot Subroto, Jalan Kapten Muslim, Simpang Jalan Diponegoro, kawasan Kantor Wali Kota Medan, Jalan Sisingamangaraja, Taman Cadika, Jalan Sei Batang Hari, hingga kawasan Ringroad.
Selain kritik bertuliskan “Kapolrestabes Stop Pencitraan”, sejumlah spanduk memuat sindiran, “Cita-cita mau jadi selebriti, namun apa daya harus jadi polisi, prestasi kok jarang, di-upload”. Ada pula pesan “Suara Rakyat Bukan Target!” disertai gambar Kapolrestabes Medan yang diberi tanda silang merah.
Ketua DPD Pemuda Demokrasi Indonesia Sumut, Paulus Peringatan Gulo, S.H., M.H., mengatakan pemasangan spanduk tersebut merupakan bentuk kritik terbuka terhadap kepemimpinan kepolisian di Kota Medan.
Menurut Paulus, pihaknya mempertanyakan sejauh mana kinerja kepolisian dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menilai aktivitas pimpinan kepolisian di media sosial tidak semestinya lebih menonjol dibandingkan hasil kerja dalam penanganan persoalan keamanan dan pelayanan publik.
“Jabatan Kapolrestabes Medan adalah jabatan prestisius dan merupakan tempat masyarakat mengadu. Kami mempertanyakan prestasi yang benar-benar dirasakan masyarakat. Jangan sampai masyarakat justru melihat bahwa aktivitas di media sosial lebih menonjol dibandingkan kerja nyata di lapangan,” kata Paulus.
Kritik kinerja, bukan serangan terhadap institusi
Paulus menegaskan, kritik yang disampaikan organisasinya tidak dimaksudkan untuk menyerang institusi Polri. Ia menyebut aksi tersebut sebagai bentuk dorongan agar kepolisian lebih berfokus pada pelayanan masyarakat dan penyelesaian persoalan di lapangan.
“Kami tidak sedang menyerang institusi Polri. Kami justru ingin marwah Polri tetap terjaga. Kami cinta Polri dan mendukung Polri Presisi. Tetapi pimpinan kepolisian harus lebih mengutamakan kerja nyata, pelayanan dan penyelesaian persoalan masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, penilaian mengenai kinerja Kapolrestabes Medan yang disampaikan melalui spanduk tersebut merupakan kritik dari Pemuda Demokrasi Indonesia. Penilaian itu belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan objektif mengenai kinerja kepolisian tanpa disertai data, indikator, dan tanggapan dari pihak terkait.
Ancam tambah spanduk jika diturunkan
Paulus juga menyoroti kemungkinan penurunan spanduk yang telah dipasang. Ia menyatakan organisasinya akan menambah jumlah spanduk apabila materi kritik tersebut dicopot.
“Hari ini 10 spanduk kami pasang. Kalau satu diturunkan, 100 spanduk lagi akan kami naikkan. Kalau 100 diturunkan, 1.000 akan kami sebar di seluruh Sumatera Utara,” kata Paulus.
Ia menyebut langkah tersebut sebagai tekanan moral agar pimpinan kepolisian memberikan perhatian lebih besar terhadap persoalan masyarakat. Paulus juga meminta agar kritik publik tidak dipandang sebagai bentuk permusuhan terhadap institusi Polri.
“Stop pencitraan, mulai kerja nyata untuk masyarakat. Kritik ini jangan dianggap sebagai permusuhan. Jadikan ini evaluasi agar pelayanan kepolisian semakin baik dan kepercayaan masyarakat semakin kuat,” ujarnya.
Pemasangan spanduk tersebut menjadi bentuk penyampaian aspirasi publik terhadap kinerja aparat penegak hukum. Namun, substansi kritik yang disampaikan perlu diuji melalui data kinerja, penanganan laporan masyarakat, serta penjelasan dari pihak kepolisian.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan resmi dari Kapolrestabes Medan terkait pemasangan spanduk dan kritik yang disampaikan DPD Pemuda Demokrasi Indonesia Sumut. Redaksi tetap membuka ruang bagi pihak kepolisian untuk memberikan klarifikasi atau tanggapan guna melengkapi pemberitaan.
- Penulis: Budiman Sihombing
Editor: Redaksi
![]()














