Berita-24today.co.id || GARUT – Sebanyak 100 kontingen Pekan Olahraga dan Seni Antar-Diniyah (Porsadin) ke-8 Kabupaten Garut resmi dilepas untuk mengikuti kompetisi tingkat Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Cianjur pada 23–25 Oktober 2026. Namun, menjelang keberangkatan, persoalan dukungan biaya operasional menjadi perhatian pengurus DPC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Garut.
Pelepasan kontingen dilaksanakan di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Garut, Jumat (23/10/2026), dan secara resmi dilakukan oleh Ketua DPRD Kabupaten Garut, Aris Munandar.
Dalam ajang tersebut, kontingen Garut akan mengikuti 17 cabang lomba. Keikutsertaan ini menjadi kesempatan bagi para santri pendidikan diniyah untuk menunjukkan kemampuan di bidang olahraga dan seni Islami sekaligus membawa nama Kabupaten Garut di tingkat provinsi.
Di balik persiapan tersebut, pihak kontingen dan pengurus DPC FKDT Garut menyampaikan adanya keterbatasan dukungan operasional dari pemerintah daerah. Kondisi ini membuat pengurus, guru, dan orang tua peserta harus bermusyawarah untuk mencari solusi pembiayaan agar keberangkatan tetap terlaksana.
Suasana haru disebut turut mewarnai prosesi pelepasan. Para peserta, ofisial, pengurus, serta orang tua santri mengiringi keberangkatan dengan harapan agar kontingen mampu mengikuti perlombaan secara maksimal.
Keterbatasan biaya operasional menjadi tantangan tersendiri bagi rombongan, terutama dalam memenuhi kebutuhan perjalanan dan keperluan peserta selama mengikuti kompetisi di Cianjur.
Porsadin sendiri merupakan ajang pengembangan potensi santri pendidikan diniyah, tidak hanya dalam kemampuan berkompetisi, tetapi juga dalam pembentukan karakter, sportivitas, kreativitas, dan kepercayaan diri.
Dukungan pembinaan terhadap peserta menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kontingen menghadapi kompetisi. Selain latihan dan persiapan teknis, kebutuhan transportasi, akomodasi, konsumsi, serta perlengkapan lomba perlu diperhitungkan sesuai kemampuan dan ketentuan anggaran yang berlaku.
Hingga naskah ini disusun, keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Garut mengenai alokasi anggaran, mekanisme dukungan, serta alasan keterbatasan pembiayaan tersebut masih perlu dikonfirmasi.
Garut sudah dua kali membuktikan mampu menjadi juara umum. Kini, saat para santri kembali berjuang di Cianjur, kebanggaan terhadap prestasi itu semestinya tercermin bukan hanya dalam seremoni pelepasan, tetapi juga dalam perhatian terhadap pembinaan dan perjuangan mereka. (**)

















