Berita-24today.co id ||JAKARTA — Pesan perdamaian dan solidaritas untuk korban bencana Flores dibawa Persaudaraan Timur Indonesia Raya (PETIR) DPW DKI Jakarta ke ruang publik Jakarta. Melalui kegiatan “Nada Damai dari Timur Nusantara”, PETIR menggelar aksi sosial sekaligus menyerukan penghentian rasisme dan diskriminasi.
Kegiatan berlangsung di depan Wisma Bumiputera, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 75, Jakarta Selatan, Minggu (30/8/2026), sejak pukul 06.00 WIB.
Berlangsung di tengah aktivitas car free day, kegiatan tersebut melibatkan pengurus, anggota PETIR serta masyarakat umum.
Sejumlah agenda digelar, mulai dari senam sehat, penampilan musik, orasi, puisi, nyanyi bersama, penggalangan donasi hingga penandatanganan pesan damai.
Obbie Messakh, Rani Ve, dan The Tambel turut memeriahkan kegiatan yang mengangkat tema “Merawat Kebhinekaan, Menguatkan Persaudaraan, Menjaga Indonesia.”
Melalui kegiatan itu, PETIR membawa pesan “Dari Timur, Menggema Damai untuk Indonesia.”
Bukan Sekadar Seremonial
Ketua DPW PETIR DKI Jakarta Ones Kilikily mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda organisasi, tetapi merupakan bentuk ekspresi kecintaan masyarakat Indonesia Timur terhadap NKRI.
“Kami keluarga besar Indonesia Timur sangat mengasihi dan mencintai NKRI. Kami mencintai kebersamaan dan persaudaraan,” ujar Ones.
Menurutnya, PETIR ingin menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia Timur dapat berkontribusi dalam menjaga persatuan dan kedamaian di Jakarta maupun Indonesia secara keseluruhan.
Ia juga menyinggung persoalan rasisme dan diskriminasi yang menurutnya masih dirasakan sebagian masyarakat Indonesia Timur.
“Kami ingin supaya image atau pandangan-pandangan negatif yang selama ini mungkin dialamatkan kepada kita bisa dipatahkan,” katanya.
Ones berharap kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangun hubungan yang lebih harmonis antarsesama anak bangsa.
Donasi untuk Flores
Di sela kegiatan, PETIR membuka penggalangan dana bagi masyarakat terdampak bencana di Flores, NTT.
Ketua Umum DPN PETIR E. Alex Kadju mengatakan aksi tersebut muncul dari kepedulian keluarga besar PETIR terhadap saudara mereka di Indonesia Timur.
“Kami melihat saudara-saudara kami menderita akibat gempa yang terjadi di Flores. Kami berinisiatif dan bermusyawarah bersama keluarga besar PETIR untuk membuat acara ini,” kata Alex.
Alex berharap bantuan yang terkumpul dapat membantu meringankan beban masyarakat terdampak.
Ia mengajak seluruh anggota PETIR untuk memegang prinsip persaudaraan dalam menghadapi persoalan kemanusiaan.
“Baku jaga, baku sayang, baku lihat. Satu sakit semua sakit, satu senang semua senang,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia M. Harris Chandra, SH, mengatakan donasi masih terus dihimpun selama kegiatan berlangsung.
Hingga laporan sementara disampaikan, dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp12 juta.
“Donasi masih terus berjalan dan tentunya akan bertambah sampai acara selesai,” kata Harris.
Dana tersebut rencananya diserahkan kepada DPN PETIR untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana di NTT.
Selain uang tunai, PETIR juga berencana menyalurkan sembako dan bahan pokok.
Harris mengatakan pihaknya akan melihat kebutuhan prioritas di lapangan, termasuk kemungkinan memberikan bantuan terhadap tempat ibadah yang mengalami kerusakan.
Seruan Stop Rasisme
Kegiatan tersebut juga menjadi panggung bagi PETIR untuk menyampaikan penolakan terhadap segala bentuk rasisme.
Alex meminta masyarakat Indonesia tidak lagi menggunakan istilah yang merendahkan kelompok tertentu berdasarkan asal daerah atau identitas.
“Kami sangat prihatin, marah dan kecewa karena kami orang Indonesia Timur selalu ada yang menyetarakan dengan hewan,” ujar Alex.
Ia meminta seluruh masyarakat Indonesia menghentikan tindakan dan ucapan bernuansa rasis.
“Jangan ada lagi rasis karena itu akan merusak dan mencederai bangsa ini,” katanya.
Menurut Alex, perbedaan seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk merendahkan kelompok lain.
“Kami ini manusia,” tegasnya.
Ones juga menegaskan bahwa PETIR ingin mengedepankan nilai persatuan.
“Stop dengan yang namanya rasisme dan diskriminasi,” ujarnya.
Ia mengatakan masyarakat Indonesia Timur juga memiliki kontribusi terhadap Indonesia, sehingga persaudaraan harus dibangun atas dasar kesetaraan.
“Kami ingin saling menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan persatuan Indonesia,” kata Ones.
Kontribusi untuk Jakarta
Ketua panitia Harris mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk komitmen PETIR untuk berkontribusi terhadap keamanan dan ketertiban di Jakarta.
Menurutnya, PETIR menghimpun masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia, seperti Papua, Maluku, NTT, NTB, Sulawesi dan Kalimantan.
“Kami siap ikut andil dan berkontribusi untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban di wilayah Pemprov DKI,” ujar Harris.
Pendiri DPN PETIR Semy Manafe mengapresiasi seluruh pengurus dan anggota yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Semy mengatakan kegiatan itu berawal dari kepedulian terhadap masyarakat Flores yang terdampak bencana.
“Dengan segala kekurangan, PETIR mau berbuat yang terbaik,” katanya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila kegiatan di kawasan Sudirman menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan dan pejalan kaki.
Dari Jakarta untuk Saudara di Timur
PETIR berharap aksi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sehari.
Penggalangan bantuan untuk Flores diharapkan menjadi bentuk nyata bahwa kepedulian terhadap korban bencana tidak mengenal batas wilayah.
Sementara pesan perdamaian yang disuarakan dari kawasan Sudirman menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia, dari berbagai suku dan daerah, memiliki ruang yang sama sebagai bagian dari NKRI.
Melalui “Nada Damai dari Timur Nusantara”, PETIR membawa tiga pesan utama: menolak rasisme dan diskriminasi, memperkuat persaudaraan, serta membantu sesama yang sedang menghadapi bencana.
Dari Timur, PETIR ingin terus menggema damai untuk Indonesia.
Penulis : S Erfan Nurali
Editor : Redaksi













