Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Keluarga Korban Kapal Virgo Terpukul! 9 Warga Garut Masih Hilang, Proses Salvage Belum Pasti

5
×

Keluarga Korban Kapal Virgo Terpukul! 9 Warga Garut Masih Hilang, Proses Salvage Belum Pasti

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Berita-24today.co.id || GARUT – Harapan keluarga korban tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 untuk menemukan anggota keluarganya kini dihadapkan pada kenyataan pahit. Setelah 53 hari operasi pencarian dilakukan, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menghentikan operasi SAR di perairan Laut Jawa.

Namun, penghentian operasi tersebut menyisakan persoalan kemanusiaan yang belum tuntas. Sebanyak sembilan warga asal Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, hingga kini belum ditemukan dan dinyatakan hilang.

Example 300x600

Kapal Virgo Transport 8 sebelumnya mengalami kecelakaan laut dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin. Peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga korban yang hingga saat ini masih menunggu kepastian nasib anggota keluarganya.

Sekretaris Desa Situsaeur, Ade Lukman, mengaku baru mengetahui informasi penghentian operasi pencarian setelah membaca pemberitaan yang beredar di media sosial. Menindaklanjuti informasi tersebut, pemerintah desa langsung melakukan komunikasi dengan pihak Basarnas.

Hasil komunikasi tersebut membenarkan bahwa operasi pencarian telah resmi ditutup setelah berlangsung selama 53 hari.

“Jawabannya bahwa betul operasi SAR yang dilakukan oleh Basarnas selama 53 hari sudah ditutup secara resmi di hari ke-53,” ungkap Ade saat ditemui di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Garut, Kamis (5/11/2026).

Menurut Ade, berdasarkan informasi yang diterima dari Basarnas, sembilan warga Situsaeur yang sebelumnya masuk dalam daftar pencarian kini berstatus hilang.

Kendati operasi SAR telah dihentikan, masih terdapat peluang pembukaan kembali pencarian apabila proses salvage atau pengangkatan dan penyelamatan kapal dilakukan.

“Basarnas sudah berjanji jika proses salvage atau penyelamatan kecelakaan di perairan dilakukan, maka operasi pencarian akan dibuka kembali. Tetapi kita juga kebingungan karena tidak ada kepastian kapan operasi salvage itu dilakukan,” ujarnya.

Penghentian operasi pencarian menjadi pukulan berat bagi keluarga korban. Sebab, selama puluhan hari mereka masih menyimpan harapan agar anggota keluarganya dapat ditemukan, meskipun dalam kondisi tidak bernyawa.

Ade mengungkapkan, terdapat indikasi sebagian korban masih berada di dalam badan kapal. Karena itu, proses salvage dinilai menjadi salah satu harapan terakhir untuk mendapatkan kepastian keberadaan para korban.

“Karena diindikasikan oleh tim SAR juga sebagian korban itu terjebak di kapal. Tetapi dengan ditutupnya operasi secara resmi oleh pihak Basarnas, ya sedih dan terpukul lah,” tuturnya.

Pemerintah Desa Situsaeur sendiri telah mengumpulkan keluarga korban yang belum ditemukan untuk menyampaikan perkembangan informasi terakhir dari Basarnas.

Pihak desa memahami bahwa operasi SAR telah dihentikan sesuai keputusan otoritas terkait. Namun, keluarga masih berharap ada langkah lanjutan agar setidaknya jasad anggota keluarga mereka bisa ditemukan dan dipulangkan secara layak.

“Ya mau tidak mau kita menerima, tapi mudah-mudahan pihak-pihak yang berkompeten bisa membantu, minimal proses salvage sehingga ada jasadnya,” kata Ade.

Di tengah ketidakpastian tersebut, pemerintah desa mulai mengupayakan pemenuhan hak-hak para korban, termasuk berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Garut dan pihak Jasa Raharja.

Menurut Ade, proses pengajuan hak keluarga korban membutuhkan sejumlah dokumen resmi sebagai dasar administrasi.

Setidaknya terdapat tiga dokumen yang saat ini dinantikan, yakni surat resmi dari Basarnas mengenai penghentian operasi pencarian, keterangan dari pemerintah daerah setempat di Kalimantan Selatan, serta dokumen atau pernyataan resmi dari perusahaan terkait kejadian tersebut.

“Kita masih menunggu. Yang pertama adalah pernyataan resmi tertulis dari Basarnas, yang kedua pernyataan dari pemerintah setempat mungkin dari Kalimantan Selatan, ketiga dari perusahaan berupa manifest,” jelasnya.

Ade juga meminta Pemerintah Kabupaten Garut ikut mendorong Basarnas agar segera menerbitkan surat resmi penghentian operasi SAR. Sebab, informasi yang diterima pemerintah desa sejauh ini baru berupa publikasi video.

Menurutnya, kepastian administrasi sangat penting agar keluarga korban tidak terus-menerus menghadapi ketidakjelasan dalam memperjuangkan hak-haknya.

Ia juga menyebut adanya angka 53 korban yang dinyatakan hilang berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak Basarnas. Namun, pemerintah desa masih membutuhkan dokumen tertulis untuk memastikan data tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Garut, Marlinda Siti Hana, menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu informasi terbaru dari Basarnas terkait perkembangan penanganan korban Kapal Virgo Transport 8.

Marlinda mengakui, pihaknya juga belum memperoleh perkembangan terbaru secara resmi mengenai keberadaan para korban.

“Sebenarnya kalau tidak salah dulu diperpanjang berapa hari, tetapi sekarang belum ada kabar lagi. Kita juga sering ditanya oleh pihak keluarga,” ungkap Marlinda.

Dinas Sosial, lanjutnya, akan terus menjalin komunikasi dengan pihak terkait untuk memperoleh informasi apabila terdapat perkembangan baru.

Selain koordinasi, Pemkab Garut melalui Dinas Sosial juga menyiapkan anggaran sebesar Rp2 juta untuk membantu proses pengurusan dan pemulangan jenazah korban.

“Tetap ditanya, walaupun tidak tiap hari. Gimana ini, tidak ada kabar. Tetapi kalau ada apa-apa biasanya mereka kasih tahu ke kita. Sampai sekarang belum ada kabar,” pungkasnya.

  • Penulis : Rus
  • Editor : S Erfan Nurali

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights