Berita-24today.co.id | Jakarta– Jiwa Perempuan Indonesia (Jipindo) menggelar lomba tari Tor-Tor dalam rangka memperingati Hari Ulos Nasional sekaligus memperkuat gerakan Ulos Goes to UNESCO. Kegiatan yang berlangsung di Arion Suites Hotel Kemang, Jakarta, Jumat (6/11/2026), menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya Batak sekaligus mendorong pelestarian kain ulos agar semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Mengusung tema “Dari Tano Batak untuk Indonesia dan Dunia”, kegiatan tersebut dikemas melalui berbagai pertunjukan seni dan budaya. Selain lomba tari Tor-Tor, acara juga dimeriahkan dengan talk show, trunk show atau peragaan busana, penampilan paduan suara GSI, angklung IMAKGI, beragam tarian tradisional, serta hiburan lainnya.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, M.A., Ibu Hetty Andika Perkasa dan sejumlah tamu undangan lainnya. Kehadiran para tokoh tersebut menambah semarak sekaligus memperkuat perhatian terhadap upaya pelestarian warisan budaya Nusantara, khususnya kain ulos, yang tengah didorong untuk memperoleh pengakuan di tingkat internasional melalui gerakan Ulos Goes to UNESCO.
Suasana acara semakin meriah dengan kehadiran aktor sekaligus penyanyi Sandro Tobing dan penyanyi jebolan Indonesian Idol 2018, Maria Simorangkir. Jipindo juga menghadirkan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menampilkan beragam produk unggulan, mulai dari kuliner, wastra, batik, kain tenun, aksesori, hingga berbagai produk kreatif lainnya.
Melalui kegiatan tersebut, Jipindo berupaya menjadikan seni dan budaya sebagai sarana memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan leluhur. Lebih dari sekadar memperkenalkan keindahan kain ulos, kegiatan ini juga mengangkat nilai-nilai filosofis, sosial, dan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Dalam tradisi masyarakat Batak, khususnya Batak Toba dan kelompok masyarakat Batak lainnya di Sumatera Utara, ulos bukan sekadar kain tenun atau pelengkap busana adat. Ulos memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat sebagai simbol kasih sayang, doa, restu, perlindungan, serta ikatan kekeluargaan.
Setiap jenis ulos memiliki fungsi dan makna tersendiri yang digunakan dalam berbagai tahapan kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga upacara kematian. Pemberian ulos juga mengandung doa dan harapan agar penerimanya memperoleh kesehatan, panjang umur, keberkahan, serta keharmonisan dalam kehidupan keluarga.
Sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, Ulos Batak Toba telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 270/P/2014. Selanjutnya, tanggal 17 Oktober diperingati sebagai Hari Ulos Nasional sejak 2015.
Pembina Jipindo, Dr. Hj. Cri Puspa Dewi Motik Pramono, M.A., M.Si., mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan yang memadukan seni, budaya, dan kebersamaan memiliki banyak manfaat, tidak hanya dalam menjaga kelestarian warisan budaya, tetapi juga memberikan kebahagiaan serta mempererat hubungan sosial antaranggotanya.
“Saya sebagai penasihat di organisasi Jipindo merasa bahwa apa yang dilakukan Jipindo merupakan langkah yang sangat baik. Banyak manfaat yang bisa dirasakan, mulai dari pelestarian seni dan budaya, memberikan kebahagiaan kepada ibu-ibu, termasuk yang sudah berusia lanjut, hingga menjadi kesempatan untuk terus belajar tentang kebudayaan,” ujarnya saat ditemui di sela-sela acara.
Ia menambahkan, kegiatan yang mempertemukan perempuan dari berbagai latar belakang tersebut menjadi ruang untuk membangun silaturahmi, meningkatkan keakraban, sekaligus menciptakan kebahagiaan bersama.
Cri Puspa Dewi Motik juga mengungkapkan kedekatannya dengan budaya Batak melalui hubungan keluarga. Pengalaman tersebut membuatnya mengenal lebih jauh tradisi masyarakat Batak, termasuk kain ulos yang memiliki nilai budaya dan filosofi mendalam.
Menurutnya, organisasi seperti Jipindo memiliki peran penting dalam membangun kebersamaan dan memperkuat persatuan bangsa melalui kegiatan sosial, seni, dan budaya.
“Pertemuan seperti ini melahirkan kebahagiaan dan menjadi bentuk pengabdian bagi kita semua. Saya berharap organisasi seperti Jipindo terus meningkatkan keakraban antaranggotanya dan memperkuat seluruh unsur yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Jipindo, Purnama D. Napitupulu Sitompul, mengatakan bahwa dukungan terhadap gerakan Ulos Goes to UNESCO telah dilakukannya sejak 2016. Saat itu, sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh nasional berkumpul di Medan untuk menggelar seminar serta berbagai kegiatan yang bertujuan mendorong kain ulos mendapatkan pengakuan di tingkat internasional.
Menurut Purnama, kegiatan yang diselenggarakan Jipindo saat ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperluas dukungan masyarakat terhadap gerakan tersebut. Bahkan, kegiatan serupa yang dilaksanakan organisasi itu telah memasuki tahun keempat.
“Sejak 2016 saya sudah aktif terlibat dalam dukungan Ulos Goes to UNESCO. Waktu itu kami berkumpul di Medan bersama tokoh masyarakat dan tokoh nasional, mengadakan seminar serta berbagai kegiatan agar ulos bisa mendapatkan pengakuan UNESCO. Sekarang ini kami melaksanakan kegiatan untuk tahun keempat,” kata Purnama.
Ia berharap gerakan Ulos Goes to UNESCO semakin dikenal dan mendapatkan dukungan luas dari masyarakat Indonesia. Menurutnya, ulos tidak hanya menjadi identitas masyarakat Batak, tetapi juga merupakan bagian dari kekayaan budaya nasional yang patut dibanggakan dan diperkenalkan kepada dunia.
“Harapan saya, ulos bukan hanya menjadi milik orang Batak, tetapi menjadi milik nasional dan mendunia. Kami berharap ulos bisa hadir dan mendapatkan pengakuan UNESCO. Yang tidak kalah penting, generasi muda ke depan harus semakin mencintai dan melestarikan budaya ulos,” tegasnya.
Purnama juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan perkembangan zaman. Menurutnya, penggunaan ulos dalam upacara adat harus tetap mengikuti pakem dan ketentuan tradisional. Namun, untuk pengembangan produk fesyen dan kebutuhan masyarakat modern, ulos dapat dikreasikan melalui berbagai inovasi tanpa menghilangkan identitas budayanya.
Ia menjelaskan, saat ini ulos telah mengalami berbagai pengembangan desain sehingga dapat digunakan oleh masyarakat yang lebih luas. Hal tersebut juga menjadi salah satu topik pembahasan dalam talk show yang menghadirkan perancang busana Raden Sirait dan Melfarina Sianipar.
“Untuk kepentingan adat, ulos harus tetap mengikuti pakem. Tetapi agar lebih diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, ulos juga perlu dimodernisasi, terutama melalui dunia fashion. Dengan begitu, masyarakat semakin mengenal, menggunakan, dan mencintai ulos,” jelasnya.
Selain berfokus pada pelestarian budaya, kegiatan Jipindo juga memberikan perhatian terhadap pemberdayaan perempuan dan pengembangan ekonomi kreatif. Kehadiran bazar UMKM menjadi wadah bagi para pelaku usaha, pengrajin tenun, serta pelaku industri wastra untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas peluang pasar.
Perpaduan pertunjukan seni, peragaan busana, talk show, dan bazar UMKM tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Perempuan juga memiliki ruang strategis untuk berkontribusi, baik sebagai pelaku pelestarian tradisi maupun penggerak ekonomi kreatif.
Melalui kegiatan ini, Jipindo berharap semangat “Dari Tano Batak untuk Indonesia dan Dunia” dapat berkembang menjadi gerakan bersama dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya ulos. Dengan dukungan masyarakat, komunitas budaya, tokoh nasional, pelaku usaha, serta generasi muda, ulos diharapkan semakin dikenal dan mendapat tempat di panggung budaya dunia.
• Sumber : Tim red
• Editor : S Erfan Nurali
















