Berita-24today.co.id || Jakarta, 25 Juni 2026 — Keterbatasan komunikasi masih menjadi tantangan utama yang dihadapi penyandang disabilitas, khususnya teman tuli, di Kelurahan Sukabumi Selatan, Jakarta Barat. Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) yang telah diverifikasi bersama Kelurahan Sukabumi Selatan, tercatat lebih dari 40 penyandang disabilitas berdomisili di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, lebih dari 20 orang merupakan teman tuli dengan rentang usia yang beragam.
Dalam kehidupan sehari-hari, mereka kerap mengalami hambatan berkomunikasi akibat masih minimnya pemahaman masyarakat terhadap bahasa isyarat. Kondisi tersebut menjadi latar belakang lahirnya INTUISI (Interaksi Untuk Inklusi), sebuah gerakan komunikasi inklusif yang digagas mahasiswa Konsentrasi Public Relations Digital Communication LSPR Institute of Communication & Business.
Program Community Development ini dikembangkan di bawah pendampingan dosen LSPR Institute of Communication & Business, yaitu Shopia Bernadette, S.E., M.I.Kom., Dr. Alexander Mamby Aruan, M.Si., Wynne Wardhani, S.I.Kom., dan Salsabila Andi Akil, M.I.Kom.
Project Leader INTUISI, Carizsa Pasha Lady Jacob, mengatakan hasil observasi dan kunjungan lapangan menunjukkan bahwa tantangan terbesar bagi teman tuli bukan semata keterbatasan akses informasi, tetapi juga rendahnya kemampuan masyarakat sekitar dalam menggunakan bahasa isyarat.
“Melalui observasi dan kunjungan lapangan yang kami lakukan, kami menemukan bahwa hambatan terbesar yang dihadapi teman tuli bukan hanya keterbatasan akses informasi, tetapi juga minimnya kemampuan lingkungan sekitar untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Oleh karena itu, INTUISI hadir sebagai jembatan yang menghubungkan teman tuli dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat agar tercipta lingkungan yang lebih inklusif,” ujar Carizsa.
Mengusung tagline “Interaksi Untuk Inklusi”, INTUISI menghadirkan rangkaian program berkelanjutan yang berfokus pada edukasi, pemberdayaan, dan peningkatan kesadaran masyarakat. Program tersebut meliputi DIAM (Dengan Isyarat Aku Menyapa) berupa pelatihan bahasa isyarat bagi kelompok Dasawisma, kunjungan door to door ke rumah teman tuli beserta keluarganya, kampanye edukasi digital BISIK (Bahasa Isyarat Itu Asik), hingga talkshow bertema komunikasi inklusif dan pemberdayaan komunitas tuli.
Pada tahap awal pelaksanaan, tim INTUISI melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah teman tuli di Sukabumi Selatan untuk membangun kedekatan dengan keluarga sekaligus memetakan kebutuhan komunikasi yang dihadapi sehari-hari.
Program ini juga melibatkan berbagai pihak sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor. INTUISI bekerja sama dengan SMKN 45 Jakarta dengan melibatkan para siswa sebagai bagian dari tim pelaksana kegiatan. Selain itu, Dipa Rizky Prakusha, mahasiswa LSPR School of Special Needs Education (SSNE), serta Razka Nayla Asshiddiqi, siswi SMKN 45 Jakarta, dipercaya menjadi Brand Ambassador yang mewakili suara dan pengalaman teman tuli. Keterlibatan keduanya menjadi bagian penting untuk memastikan setiap program dirancang bersama komunitas yang menjadi sasaran.
Sebagai puncak rangkaian kegiatan, INTUISI menggelar talkshow edukatif yang diikuti 171 peserta. Acara menghadirkan Nunur Aeni, dosen LSPR School of Special Needs Education (SSNE), dan Phieter Angdika, CEO PTI-Ruang Isyarat. Keduanya membahas pentingnya komunikasi inklusif, tantangan yang masih dihadapi teman tuli di Indonesia, serta peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang ramah terhadap perbedaan.
Tak hanya itu, peserta juga mengikuti simulasi bahasa isyarat sehingga dapat mempraktikkan komunikasi dasar secara langsung sebagai langkah awal membangun interaksi yang lebih inklusif.
Melalui kolaborasi dengan keluarga, kelompok Dasawisma, tokoh masyarakat, institusi pendidikan, dan komunitas teman tuli, INTUISI berharap dapat menumbuhkan budaya komunikasi yang lebih inklusif di Kelurahan Sukabumi Selatan.
Program ini menjadi pengingat bahwa bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi bagi teman tuli, melainkan jembatan yang membuka ruang saling memahami, menghargai, dan menghadirkan kesetaraan bagi setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat.
Penulis : S Erfan Nurali
Editor : Redaksi













