Berita24today.co.id || GARUT – Di tengah persoalan darurat sampah yang terus menjadi tantangan di Kabupaten Garut, muncul sosok pemuda inspiratif yang menghadirkan solusi inovatif berbasis teknologi dan kearifan lokal. Abdul Rojak Hidayat, mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Garut, berhasil meraih Juara 2 Pemuda Pelopor Kabupaten Garut Tahun 2026 pada Bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam, Lingkungan, dan Pariwisata.
Pemuda asal Kampung Bojongwaru RT 03 RW 05, Desa Padamukti, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut itu sukses mencuri perhatian dewan juri melalui inovasi bertajuk “Magloop Nusantara” yang dipadukan dengan gerakan sosial “RAKSA” (Rawat, Jaga, Saling Jaga).
Program tersebut menawarkan konsep pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dengan sistem closed-loop, yakni mengolah sampah organik menjadi maggot sebagai pakan ternak serta kasgot atau pupuk organik bernilai ekonomis tinggi. Inovasi ini dinilai menjadi solusi konkret dalam mengurangi volume sampah sekaligus membantu ketahanan pangan masyarakat.
Abdul Rojak mengatakan, ide tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Bajing yang semakin terbebani oleh tingginya produksi sampah rumah tangga.
“Permasalahan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat juga harus ikut bertanggung jawab. Saya ingin membuktikan bahwa sampah sebenarnya bisa menjadi sumber manfaat dan pusat laba apabila dikelola dengan baik,” ujarnya usai menerima penghargaan.
Melalui Magloop Nusantara, Rojak tidak hanya menghadirkan teknologi budidaya maggot, tetapi juga membangun gerakan sosial berbasis budaya Sunda melalui konsep RAKSA. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan lingkungan harus dimulai dari penguatan nilai gotong royong di masyarakat.
Ia menilai falsafah Sunda seperti Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh menjadi pondasi penting dalam membangun kesadaran kolektif menjaga lingkungan.
“Gerakan RAKSA ini bukan sekadar program pengolahan sampah, tetapi juga upaya menghidupkan kembali budaya kebersamaan masyarakat Sunda agar peduli terhadap lingkungan sekitar,” katanya.
Keberhasilan Abdul Rojak meraih prestasi tingkat Kabupaten Garut ini sekaligus menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam menghadirkan solusi atas persoalan daerah. Dengan memadukan inovasi teknologi dan pendekatan sosial budaya, ia berhasil menciptakan model pengelolaan sampah yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Program yang digagasnya kini mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan karena dinilai mampu membuka peluang usaha baru berbasis pengelolaan sampah organik, khususnya di wilayah pedesaan.
Mengusung slogan “Limbah Jadi Berkah, Wujudkan Garut Hebat Tanpa Sampah”, Abdul Rojak berkomitmen untuk terus mengembangkan dan menduplikasi model ekonomi sirkular tersebut ke berbagai wilayah di Kabupaten Garut.
Ia berharap inovasi yang dirintisnya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terus berkarya dan menghadirkan solusi nyata bagi lingkungan maupun masyarakat.
“Harapan saya, semakin banyak anak muda yang mau turun tangan menjaga lingkungan. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil dan kepedulian bersama,” pungkasnya.
Penulis : Rusmana












