Berita -24today.co.id||SURAKARTA — Lumbung Karya Indonesia (LKI) bersama Pemerintah Kota Surakarta menggelar talk show bertajuk “Inovasi Karya Pangan Lokal”, Jumat (25/9/2026) pukul 19.00 WIB di Hetero Space Solo. Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog sekaligus upaya mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk terus mengembangkan inovasi berbasis potensi pangan lokal.
Talk show menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Wali Kota Surakarta Respati Ardi, Suratini atau yang dikenal dengan Ibu Kimpul, seorang influencer pangan lokal, serta Ibu Ismiyati dari Superoti. Diskusi dipandu oleh Adhitya Ardian, CEO Java Establishment, sebagai moderator.
Kegiatan ini mengangkat gagasan pentingnya memperkenalkan kembali berbagai bahan pangan lokal dan makanan olahan tempo dulu kepada generasi muda, khususnya Gen-Z, maupun masyarakat secara luas. Pangan tradisional yang selama ini dianggap sederhana dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih menarik, bernilai ekonomi, sekaligus sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini.
Salah satu bahan pangan yang menjadi perhatian adalah bekatul. Bahan yang dahulu lebih banyak dikenal sebagai hasil samping penggilingan padi tersebut kini mulai mendapatkan perhatian sebagai salah satu alternatif bahan pangan yang dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah.
Selain bekatul, kimpul, salah satu jenis tanaman umbi-umbian yang masih satu kelompok dengan talas, juga diperkenalkan dalam diskusi. Pangan lokal tersebut kini mulai mendapatkan perhatian seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan alternatif yang berbasis bahan alami dan pangan lokal.
Pengembangan pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan aspek kuliner, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Melalui kreativitas dan inovasi, bahan pangan lokal dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki daya jual lebih tinggi sekaligus memperluas pasar UMKM.
Para peserta talk show mayoritas merupakan pelaku UMKM sektor makanan. Sebagian di antaranya merupakan pedagang yang memasarkan produknya melalui kegiatan Car Free Day (CFD) di Kota Surakarta. Kehadiran mereka membuat pembahasan menjadi semakin relevan karena persoalan yang dibicarakan berkaitan langsung dengan aktivitas usaha sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Surakarta Respati Ardi juga menyoroti persoalan makanan yang tidak terjual serta limbah yang dihasilkan dari kegiatan usaha makanan. Menurut gagasan yang dibahas dalam forum tersebut, persoalan itu perlu mendapatkan perhatian melalui penerapan konsep Zero Food Waste.
Zero Food Waste merupakan konsep atau gaya hidup yang berupaya meminimalkan hingga menghilangkan limbah makanan agar makanan tidak berakhir terbuang sia-sia. Bagi pelaku UMKM makanan, penerapan konsep tersebut dapat dilakukan mulai dari perencanaan produksi, pengelolaan bahan baku, pengemasan, hingga penanganan makanan yang tidak terjual.
Konsep tersebut sekaligus dapat menjadi bagian dari inovasi usaha. Pelaku UMKM dituntut tidak hanya memikirkan bagaimana meningkatkan penjualan, tetapi juga bagaimana mengelola produksi secara efisien sehingga bahan pangan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Menariknya, kegiatan berlangsung secara interaktif. Para pelaku UMKM diberikan kesempatan berdialog langsung dengan para narasumber mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha.

Dialog tersebut menjadi bagian penting karena persoalan UMKM di lapangan tidak selalu sama. Mulai dari pengembangan produk, pemasaran, pemanfaatan bahan pangan lokal, hingga persoalan produk yang tidak terjual dapat menjadi tantangan yang membutuhkan solusi sesuai kondisi masing-masing pelaku usaha.
Melalui dialog langsung tersebut, para peserta mendapatkan pencerahan sekaligus alternatif solusi yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha mereka.
Kegiatan “Inovasi Karya Pangan Lokal” pada akhirnya tidak hanya menjadi forum diskusi mengenai makanan tradisional, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa pangan lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk inovatif dan bernilai ekonomi.
Sinergi antara pemerintah, pelaku UMKM, komunitas, dan para penggiat pangan lokal diharapkan dapat mendorong lahirnya produk-produk pangan kreatif yang tetap berakar pada kekayaan lokal. Di sisi lain, penerapan prinsip Zero Food Waste dapat menjadi langkah menuju kegiatan usaha makanan yang lebih efisien, berkelanjutan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.













