Berita-24today.co.id || GARUT — Upaya memperkuat pendidikan agama bagi generasi muda terus didorong melalui pengembangan Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustho (MDTW) di lingkungan sekolah formal. Salah satunya diwujudkan oleh SMP Terpadu Bina Insani, Kampung Bojong Pulus RT 01 RW 09, Desa Margaluyu, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.
Pada Selasa, 22 September 2026, dilaksanakan acara peresmian sekaligus penyerahan Izin Operasional (IJOP) baru Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustho (MDT Wustho) kepada SMP Terpadu Bina Insani.
Kegiatan tersebut menjadi langkah penting dalam penguatan pendidikan yang memadukan pembelajaran umum dengan pendidikan keagamaan. Dengan adanya MDT Wustho di lingkungan sekolah formal, para siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga memperoleh pembelajaran agama secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama Kabupaten Garut, KH. Badrul Munir Gojali, mengatakan bahwa keberadaan MDT Wustho di SMP Terpadu Bina Insani merupakan sesuatu yang patut dikembangkan.
Menurutnya, MDT Wustho atau pendidikan keagamaan setingkat SMP/MTs yang diselenggarakan di lingkungan sekolah formal tersebut menjadi salah satu langkah yang dapat membuka model baru dalam penguatan pendidikan karakter dan keagamaan peserta didik.
“MDT Wustho di Kabupaten Garut baru ini yang memulai melaksanakan, terlebih dilaksanakan di lingkungan sekolah formal, yaitu di SMP Terpadu Bina Insani. Sehingga setelah siswa atau santri mengikuti pembelajaran akademik, mereka dapat langsung mengikuti pembelajaran agama di Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustho,” ujar KH. Badrul Munir Gojali.
Ia berharap pola pendidikan tersebut tidak berhenti di SMP Terpadu Bina Insani saja. Menurutnya, model tersebut dapat menjadi pilot project atau proyek percontohan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh lembaga pendidikan lainnya.
“Harapannya ini menjadi pilot project bagi lembaga yang lain untuk mendirikan atau melaksanakan MDT Wustho, khususnya di sekolah-sekolah formal,” katanya.
KH. Badrul Munir juga menilai, integrasi pendidikan formal dan pendidikan diniyah dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk memanfaatkan waktu secara positif sekaligus memperkuat pemahaman keagamaan.
“Anak-anak bisa lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar. Ini juga menjadi nilai plus dan daya tawar kepada masyarakat,” ungkapnya.
Lebih jauh, keberadaan MDT Wustho di lingkungan sekolah formal diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih konkret bagi peserta didik. Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMP/MTs, siswa diharapkan tidak hanya memperoleh ijazah pendidikan formal, tetapi juga memiliki bukti kelulusan dari pendidikan diniyah sesuai ketentuan yang berlaku.
“Sehingga setelah selesai dari SMP atau MTs, anak-anak mendapatkan dua ijazah, yaitu ijazah formal dan ijazah MDT Wustho,” jelasnya.
Model tersebut dinilai dapat menjadi salah satu alternatif dalam menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga membangun pemahaman agama, karakter, kedisiplinan, serta nilai-nilai moral peserta didik.
Sementara itu, keberadaan MDT Wustho di SMP Terpadu Bina Insani diharapkan dapat terus dikembangkan dengan memperhatikan kualitas pembelajaran, tenaga pendidik, kurikulum, serta pemenuhan ketentuan penyelenggaraan pendidikan diniyah.
Langkah tersebut sekaligus menjadi dorongan agar sinergi antara pendidikan formal dan pendidikan keagamaan semakin diperluas di Kabupaten Garut. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga dapat menjadi ruang pembentukan karakter dan penguatan nilai keagamaan bagi generasi muda.
Acara peresmian dan penyerahan IJOP tersebut turut dihadiri Ketua Yayasan Pangersa Aceng Alawie, S.Ag., Kepala SMP Terpadu Bina Insani Titin Karlina, S.Pd., Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustho Intan Karlina Muziyanti, S.Pd., komite sekolah, serta perwakilan masyarakat dan orang tua siswa/santri.
Dengan hadirnya MDT Wustho di lingkungan SMP Terpadu Bina Insani, diharapkan muncul lebih banyak lembaga pendidikan di Kabupaten Garut yang mengambil langkah serupa, sehingga akses pendidikan agama bagi pelajar dapat semakin diperkuat tanpa harus mengesampingkan pendidikan formal.(Rus)













