banner 728x250

Layani 2,9 Juta Penduduk, Garut Bidik Smart Hospital dan Siapkan Pengembangan RSUD 15 Tahun

banner 468x60

Berita-24today.co.id || GARUT – Pemerintah Kabupaten Garut mulai mematangkan arah pengembangan RSUD dr. Slamet Garut menuju rumah sakit berstandar Smart Hospital. Langkah tersebut ditandai dengan kunjungan kerja pimpinan Perkumpulan Teknik Pelayanan-Kesehatan Indonesia (PTPI) ke RSUD dr. Slamet Garut, Kecamatan Tarogong Kidul, Jumat (9/10/2026), untuk membahas penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) Smart Hospital.

Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, keselamatan pasien, efisiensi operasional, serta kenyamanan masyarakat yang mengakses layanan rumah sakit. Tidak hanya berorientasi pada pembenahan fasilitas fisik, perencanaan juga mencakup tata kelola organisasi, kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga sistem pelayanan yang lebih terintegrasi.

Example 300x600

Di tengah kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat Kabupaten Garut yang mencapai sekitar 2,9 juta jiwa, peningkatan kapasitas rumah sakit menjadi salah satu tantangan yang perlu ditangani secara terencana dan berkelanjutan.

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengakui bahwa ketersediaan tempat tidur dan tenaga medis masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.

“Kita sekarang lagi berusaha untuk melakukan transformasi, dari kondisi ini ke kondisi yang ideal tadi. Dan tentu saja tantangan sangat berat. Rumah sakit ini masih dipakai, sebagai ilustrasi secara teoritis mestinya di Indonesia itu minimal satu bed melayani 1.000 orang,” ujar Syakur.

Menurutnya, kebutuhan pelayanan kesehatan yang terus meningkat harus diimbangi dengan perencanaan fasilitas yang matang. Pemerintah Kabupaten Garut pun berupaya menambah kapasitas pelayanan melalui rencana pembangunan rumah sakit baru sekaligus merevitalisasi fasilitas kesehatan yang sudah tersedia.

“Nah, apa yang kita lakukan? Kita mencoba membangun rumah sakit yang baru, sedang kita ajukan. Yang kedua, kita juga melakukan revitalisasi. Yang ada ini kita manfaatkan supaya perencanaannya tetap terintegrasi, sistematis, dan menyeluruh,” katanya.

PTPI Beri Masukan untuk Perencanaan Smart Hospital

Untuk memastikan pengembangan rumah sakit berjalan sesuai kebutuhan dan standar yang ditetapkan, Pemerintah Kabupaten Garut melibatkan PTPI yang menghadirkan 12 orang dalam kunjungan tersebut. Tim memberikan perspektif teknis mengenai berbagai aspek yang perlu diperbaiki, sekaligus membuka peluang pendampingan dalam penyusunan rencana induk atau masterplan pengembangan RSUD dr. Slamet Garut.

Bupati menegaskan, peningkatan kualitas pelayanan tidak cukup hanya dilakukan melalui penambahan bangunan dan peralatan medis. Aspek keramahan petugas, kenyamanan pasien, serta kualitas interaksi antara tenaga kesehatan dan masyarakat juga menjadi bagian penting dari transformasi pelayanan.

“Dan kita juga minta ahlinya datang. Ini ada 12 orang, mereka memberikan perspektif tentang apa yang harus diperbaiki sehingga ke depan, kalau dimungkinkan, nanti akan ada bantuan untuk pembuatan masterplan secara keseluruhan,” ungkapnya.

Keterlibatan tenaga ahli tersebut diharapkan membantu pemerintah daerah menentukan skala prioritas pembangunan, kebutuhan fasilitas, penguatan SDM, serta tahapan pengembangan rumah sakit agar tidak berjalan secara parsial.

SNI Smart Hospital Tekankan Keselamatan dan Kualitas Pelayanan

Presiden PTPI, Eko Supriyanto, menjelaskan bahwa konsep Smart Hospital tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan teknologi digital. Lebih dari itu, konsep tersebut menekankan sistem pelayanan rumah sakit yang aman, bermutu, nyaman, ramah, serta dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Eko, terdapat sejumlah pilar utama yang menjadi perhatian dalam penerapan SNI Smart Hospital, di antaranya keselamatan pasien, pencegahan kesalahan medis, mutu pelayanan, keamanan lingkungan rumah sakit, serta kepedulian sosial dan lingkungan.

“Rumah sakit ini harus bermutu atau berkualitas. Kemudian yang ketiga, rumah sakit juga harus aman. Keempat, rumah sakit harus ramah, ramah sosial dan ramah lingkungan. Nah, ini yang kita tekankan, RS nyaman,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterjangkauan juga menjadi unsur penting dalam pengembangan rumah sakit. Pelayanan kesehatan harus dapat diakses dari sisi ekonomi, geografis, maupun demografis, sehingga peningkatan kualitas tidak mengabaikan kebutuhan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses.

Dalam penerapannya, standar tersebut juga mencakup ketahanan bangunan terhadap risiko bencana, seperti gempa bumi dan kebakaran, kecukupan serta kompetensi tenaga kesehatan, tata kelola organisasi, dan efisiensi waktu pelayanan.

Salah satu aspek yang turut menjadi perhatian ialah waktu tunggu pasien yang idealnya kurang dari 30 menit. Selain itu, lingkungan rumah sakit harus dirancang untuk mendukung kenyamanan dan mencegah risiko penularan penyakit antarpasien.

“Memang sudah ada di dalam standar tadi. Bisa dicek di SNI Smart Hospital Indonesia, di sana kriterianya ada dan nanti kita gunakan sebagai kriteria untuk melakukan penilaian,” kata Eko.

Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Garut yang membuka ruang bagi tenaga ahli untuk memberikan masukan dan pendampingan. Menurutnya, komitmen tersebut menjadi langkah awal untuk membangun sistem pelayanan rumah sakit yang lebih terukur dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

Kapasitas Tempat Tidur Masih Menjadi Tantangan

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Leli Yuliani, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas tempat tidur rumah sakit perlu terus dilakukan untuk mengimbangi kebutuhan pelayanan masyarakat.

Ia mengakui, tingginya kebutuhan layanan kesehatan berpotensi membuat kapasitas rumah sakit mengalami kelebihan beban apabila tidak diikuti dengan penambahan daya tampung dan peningkatan kemampuan pelayanan.

“Ya, memang kita kemungkinan untuk overload terus, karena Garut itu harus terus kapasitas bed-nya dinaikkan. Pak Bupati juga terus berupaya bagaimana meningkatkan kapasitas tempat tidur di Kabupaten Garut ini,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan RSUD dr. Slamet Garut tidak dapat dilepaskan dari persoalan mendasar berupa keseimbangan antara jumlah penduduk, ketersediaan tempat tidur, tenaga medis, dan kemampuan fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan secara optimal.

Karena itu, perencanaan pengembangan rumah sakit diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga memperhitungkan proyeksi pertumbuhan penduduk dan peningkatan kebutuhan layanan kesehatan pada masa mendatang.

Masterplan 15 Tahun, Tata Kelola dan Kepuasan Pasien Jadi Sasaran

Wakil Direktur Umum dan Keuangan UOBK RSUD dr. Slamet Garut, Gita Rahayu Kania Bdi, menambahkan bahwa penyusunan masterplan pengembangan rumah sakit diarahkan untuk jangka panjang, hingga 15 tahun ke depan.

Perencanaan tersebut akan menjadi pijakan dalam menentukan arah pengembangan fasilitas, peningkatan tata kelola, penguatan profesionalisme SDM, perbaikan kinerja operasional, serta peningkatan kualitas pelayanan kepada pasien.

Menurut Gita, pengembangan rumah sakit juga perlu memperhatikan aspek keberlanjutan pengelolaan, termasuk peningkatan pendapatan yang dapat mendukung operasional dan pengembangan layanan kesehatan.

“Bagaimana tingkat kualitas sumber daya manusianya, kemudian bagaimana meningkatkan pendapatan dan juga kualitas pelayanan yang dilaksanakan oleh rumah sakit,” tandasnya.

Dengan adanya perencanaan jangka panjang, pengembangan RSUD dr. Slamet Garut diharapkan memiliki arah yang lebih jelas, terintegrasi, dan sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.

Implementasi Menjadi Kunci Keberhasilan

Meski demikian, penerapan konsep Smart Hospital pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh tersusunnya dokumen perencanaan atau terpenuhinya standar teknis. Keberhasilan program tersebut juga akan bergantung pada konsistensi pelaksanaan, ketersediaan anggaran, pemenuhan tenaga kesehatan, pemeliharaan fasilitas, serta pengawasan terhadap mutu pelayanan.

Peningkatan kapasitas tempat tidur dan rencana pembangunan rumah sakit baru perlu berjalan seiring dengan pembenahan sistem pelayanan di fasilitas yang sudah beroperasi. Demikian pula, standar keselamatan dan keramahan harus benar-benar dirasakan pasien dalam setiap tahapan pelayanan, mulai dari pendaftaran, pemeriksaan, pengobatan, hingga proses kepulangan.

Dengan dukungan tenaga ahli PTPI dan koordinasi lintas perangkat daerah, Pemerintah Kabupaten Garut berharap pengembangan RSUD dr. Slamet dapat dilakukan secara terarah dan berkelanjutan.

Transformasi menuju Smart Hospital pun diharapkan tidak berhenti pada perencanaan, tetapi berujung pada peningkatan kualitas layanan yang nyata, waktu tunggu yang lebih efisien, lingkungan rumah sakit yang aman dan nyaman, serta akses pelayanan kesehatan yang semakin baik bagi masyarakat Kabupaten Garut.(Rus)

Loading

banner 325x300
Penulis: Rus86
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *