Berita-24today.co.id || DAIRI, SUMATERA UTARA — Situasi memanas di Dusun III, Desa Pangguruan, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Sabtu (29/8/2026). Rombongan Kompol. Purn. H. Kajiman Sihotang yang tengah melakukan pembukaan jalan tani dari Lumban Siboro menuju Tombak Lama dilaporkan diserang sekelompok massa.
Aktivitas pekerjaan berlangsung sejak pukul 11.00 hingga 17.00 WIB. Namun, sekitar pukul 17.00–18.00 WIB, situasi berubah ricuh setelah terjadi bentrokan antara pihak yang berada di lokasi dengan sekelompok massa.
Dalam kejadian tersebut, satu unit ekskavator yang digunakan untuk membuka jalan dilaporkan dibakar, sementara empat orang mengalami luka-luka akibat dugaan bacokan dan lemparan batu. Para korban kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Sebelum kegiatan berlangsung, H. Kajiman Sihotang disebut telah mengajukan permohonan pengamanan kepada Kapolsek Sumbul. Pengamanan tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi potensi gangguan selama proses pembukaan akses jalan tani.
H. Kajiman mengatakan jalan tersebut dibuka untuk mempermudah akses masyarakat, khususnya dalam mengangkut hasil pertanian dari kawasan perladangan.
“Ini untuk kepentingan masyarakat Pangguruan. Biar hasil tani warga bisa keluar. Biar nanti pemerintah bisa aspal jalan ini,” ujar H. Kajiman.
Namun, ketika pekerjaan telah berlangsung hingga sore hari, situasi di lokasi kemudian memanas dan berujung bentrokan.
Empat orang dilaporkan menjadi korban dalam insiden tersebut, yakni Herman Lingga, mandor ekskavator; Jonnes Siboro; Syahrin Siboro; dan Jamilun Sihotang, adik H. Kajiman Sihotang.
Herman Lingga mengaku dirinya hanya menjalankan pekerjaan ketika tiba-tiba terjadi penyerangan.
“Saya cuma kerja. Tiba-tiba dipukuli dan alat kami dibakar. Ini sudah kelewatan,” ujarnya.
Jonnes Siboro mengatakan pihaknya tidak mengetahui alasan hingga terjadi penyerangan.
“Kami diserang tanpa sebab. Kami cuma mau buka jalan untuk kampung,” katanya.
Syahrin Siboro meminta perhatian pemerintah dan aparat penegak hukum.
“Tolong Pak Presiden, Pak Kapolri. Tangkap pelakunya. Kami warga negara, punya hak atas tanah sendiri,” ujarnya.
Sedangkan Jamilun Sihotang mempertanyakan pengamanan yang sebelumnya telah dimohonkan.
“Abang saya sudah lapor ke polisi untuk minta pengamanan. Kenapa malah kami yang dihajar?” katanya.
Keempat korban disebut telah membuat laporan resmi ke Polres Dairi dan meminta agar dugaan tindak kekerasan tersebut segera diusut serta pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai hukum.
H. Kajiman Sihotang menilai insiden tersebut sebagai bentuk dugaan intimidasi terhadap pihaknya yang mengklaim memiliki hak atas lahan tersebut.
Ia meminta Presiden, Kapolri, Kapolda Sumatera Utara, Bupati Dairi, DPR RI, DPRD Dairi serta jajaran kepolisian memberikan perhatian serius terhadap kejadian tersebut.
“Saya minta kepada Bapak Presiden, Kapolri, Kapolda Sumut, Bupati Dairi, DPR RI, DPRD Dairi, dan Bapak Kapolsek Sumbul untuk turun tangan. Negara harus hadir. Jangan biarkan kekerasan dan premanisme menguasai Dairi,” tegasnya.
Menurutnya, apabila terdapat persoalan mengenai kepemilikan atau penguasaan lahan, penyelesaiannya harus ditempuh melalui mekanisme hukum, bukan dengan kekerasan.
Peristiwa bentrokan yang terjadi sekitar pukul 17.00–18.00 WIB tersebut kini menjadi perhatian masyarakat. Terlebih, pihak korban menyebut telah mengajukan permohonan pengamanan sebelum kegiatan pembukaan jalan dilaksanakan.
Publik pun menanti langkah tegas aparat untuk mengungkap secara terang siapa saja yang terlibat dalam dugaan penyerangan serta pembakaran ekskavator tersebut.
Hingga berita ini ditulis, keempat korban masih menjalani perawatan medis. Laporan resmi telah disampaikan kepada Polres Dairi, sementara pihak kepolisian diharapkan segera melakukan penyelidikan dan mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam bentrokan dan pembakaran ekskavator tersebut.
- Sumber : Tim
- Editor : Redaksi













