banner 728x250

Bali Mengejar Pariwisata Berkualitas, tetapi Gagap Menghadapi Kelangkaan BBM

Oleh Dr. I Ketut Suar Adnyana,M.Hum. Akademisi Universitas Dwijendra

banner 468x60

Berita-24today.co.id ~ Denpasar || Ambisi menjadikan Bali sebagai destinasi pariwisata berkualitas akan kehilangan makna jika tidak ditopang oleh kesiapan infrastruktur dan kepastian layanan dasar.

Selama ini, pariwisata berkualitas diproyeksikan melalui harapan agar wisatawan tinggal lebih lama, membelanjakan uang lebih banyak, menghormati budaya lokal, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Example 300x600

Namun, ambisi tersebut kini berhadapan dengan persoalan mendasar ketika kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) memicu antrean panjang di SPBU dan mengganggu mobilitas masyarakat serta pelaku usaha pariwisata.

Ironisnya, bagaimana Bali dapat menjanjikan pengalaman wisata berkelas jika kelancaran perjalanan dan ketersediaan energi yang menopangnya masih menghadapi ketidakpastian?

Kelangkaan BBM bukan sekadar persoalan bahan bakar, melainkan cermin kerentanan sistem yang menopang kehidupan ekonomi dan pariwisata Bali.

Antrean panjang di SPBU bukan hanya menghabiskan waktu, tetapi juga merampas produktivitas pengemudi, mengacaukan jadwal perjalanan wisata, dan menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha yang bergantung pada kelancaran mobilitas.

Masyarakat pun harus menanggung konsekuensi dari persoalan distribusi yang berada di luar kendali mereka.

Jika kondisi ini berlarut-larut, kenaikan biaya transportasi dan logistik berpotensi menekan pelaku usaha kecil, mendorong kenaikan harga barang, serta meningkatkan biaya layanan wisata.

Ironisnya, masyarakat dan pelaku usaha justru berisiko menanggung beban dari persoalan yang semestinya diantisipasi melalui tata kelola distribusi yang andal. Ketika distribusi energi tersendat, yang dipertaruhkan bukan hanya kelancaran perjalanan, melainkan juga produktivitas masyarakat, daya tahan ekonomi lokal, dan kredibilitas Bali sebagai destinasi pariwisata berkualitas.

Di sinilah makna pariwisata berkualitas perlu diuji kembali. Kualitas tidak cukup diukur melalui jumlah kunjungan, tingkat hunian hotel, pertumbuhan investasi, atau besarnya pendapatan pariwisata.

Kualitas juga ditentukan oleh keandalan transportasi, kepastian layanan, kenyamanan wisatawan, serta kemampuan sistem pendukung pariwisata menghadapi gangguan.

Destinasi yang indah tetapi sulit diakses dan tidak mampu menjamin kelancaran mobilitas berisiko kehilangan keunggulan kompetitifnya.

Persoalan paling mendasar bukan sekadar apakah BBM tersedia, melainkan apakah distribusinya mampu menjangkau masyarakat dan pusat-pusat kegiatan ekonomi tepat waktu.

Jika pasokan dinyatakan aman, tetapi antrean tetap terjadi di lapangan, berarti terdapat kesenjangan antara ketersediaan stok dan efektivitas distribusi.

Pemerintah dan pihak terkait perlu menjelaskan sumber hambatan secara transparan, memperbaiki koordinasi logistik, serta memastikan distribusi dilakukan berdasarkan kebutuhan riil wilayah.

Karena itu, mengejar pariwisata berkualitas harus dimulai dari pembenahan fondasi. Ketahanan energi, transportasi publik, sistem logistik, dan koordinasi antarlembaga tidak boleh diperlakukan sebagai urusan teknis yang terpisah dari pembangunan pariwisata.

Pemerintah daerah, pengelola destinasi, pelaku usaha, dan penyedia energi perlu memiliki mekanisme tanggap darurat yang jelas agar gangguan pasokan tidak segera berubah menjadi gangguan pelayanan wisata.

Pada akhirnya, pariwisata berkualitas tidak dibangun hanya melalui promosi, pembangunan hotel mewah, atau slogan destinasi kelas dunia. Kualitas diuji ketika sistem menghadapi masalah dan pemerintah mampu memberikan solusi yang cepat, adil, serta terukur.

Kelangkaan BBM menjadi pengingat bahwa reputasi Bali tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilihat wisatawan, tetapi juga oleh bagaimana pulau ini mengelola kebutuhan dasarnya.

Pada akhirnya, keindahan alam dan kekayaan budaya Bali tidak boleh menjadi selubung yang menutupi kelemahan tata kelola pariwisatanya.

Kelangkaan BBM menegaskan bahwa daya tarik destinasi tidak cukup dibangun melalui promosi dan citra kelas dunia, tetapi harus ditopang oleh infrastruktur yang andal, distribusi energi yang terjamin, dan pelayanan publik yang responsif. (Bud)

Loading

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *