banner 200x800
banner 200x800
Ekonomi & Bisnis

“Festival Baso Aci 2026 Gairahkan Ekonomi Garut, Baso Aci Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda”

461
×

“Festival Baso Aci 2026 Gairahkan Ekonomi Garut, Baso Aci Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda”

Sebarkan artikel ini
IMG 20260703 WA0241
Example 468x60

GARUT – Festival Baso Aci 2026 kembali menjadi magnet bagi masyarakat Kabupaten Garut. Memasuki penyelenggaraan yang keenam, festival kuliner tahunan ini bukan sekadar ajang menikmati cita rasa baso aci, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah, pemberdayaan pelaku UMKM, serta upaya melestarikan kuliner khas Garut agar semakin dikenal di tingkat nasional.

Festival yang digelar oleh Vortable Indo Creative Industry tersebut resmi dibuka oleh Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Garut, Bambang Hafidz, di halaman parkir Citimall Garut, Kecamatan Karangpawitan, Kamis (2/7/2026).

Example 300x600

Ratusan pengunjung tampak memadati lokasi pembukaan untuk menikmati beragam sajian baso aci dari puluhan pelaku usaha lokal. Festival ini akan berlangsung hingga Minggu (5/7/2026) dengan menghadirkan lebih dari 30 tenant kuliner serta berbagai perlombaan dan hiburan yang melibatkan masyarakat.

Dalam sambutannya, Bambang Hafidz mengapresiasi konsistensi penyelenggara yang selama enam tahun terus menghadirkan Festival Baso Aci sebagai ruang promosi produk lokal sekaligus penggerak roda perekonomian masyarakat.

Menurutnya, kemajuan suatu daerah sangat dipengaruhi oleh tumbuhnya jumlah wirausahawan, terutama pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).”

“Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari jumlah wirausahawannya. Termasuk tentu para pelaku UMKM. Hari ini atas peran besar Vortable bersama para sponsor dan dukungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, kegiatan ini mampu menggerakkan perekonomian masyarakat,” ujar Bambang.

Ia juga menyampaikan pesan dari Bupati dan Wakil Bupati Garut yang memberikan perhatian serius terhadap kegiatan-kegiatan yang mampu menghadirkan masyarakat sekaligus menciptakan dampak ekonomi secara langsung.

“Beliau menitipkan pesan agar kegiatan seperti ini terus diperbanyak. Setiap kegiatan harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan menggerakkan ekonomi daerah,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Beni Yoga Gunasantika, menegaskan bahwa pihaknya tengah mengupayakan Baso Aci Garut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Menurutnya, pengakuan tersebut penting untuk memperkuat identitas kuliner khas Garut sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat nasional bahkan internasional.

“Kalau melihat sejarahnya, sejak tahun 1930 baso aci sudah berkembang di Kabupaten Garut. Jadi kami meyakini dan percaya bahwa baso aci lahir dari Garut,” katanya.

Beni mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor usaha baso aci memberikan kontribusi ekonomi yang sangat besar. Pada setiap akhir pekan, perputaran uang dari perdagangan baso aci di Kabupaten Garut diperkirakan mencapai antara Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar.

Nilai ekonomi tersebut tidak hanya dinikmati para penjual baso aci, tetapi juga berdampak terhadap berbagai sektor usaha lain seperti peternakan, pertanian, perdagangan bahan baku, transportasi hingga jasa.

“Melalui festival ini kami ingin menjadikan baso aci sebagai gerakan ekonomi bersama. Semua elemen masyarakat harus didorong agar aktivitas ekonomi di Kabupaten Garut semakin tumbuh dan berkembang,” paparnya.

Di sisi lain, perwakilan Vortable Indo Creative Industry, Dhani Omar Dhien, mengenang perjalanan Festival Baso Aci yang dimulai pada tahun 2019. Saat itu, festival masih dipandang sebelah mata, namun kini telah menjadi agenda yang dinanti masyarakat.

Menurut Dhani, baso aci bukan sekadar makanan, melainkan telah menjadi identitas budaya kuliner masyarakat Garut.

“Kami berani bersaksi bahwa di 42 kecamatan hampir di setiap RT atau RW pasti ada penjual baso aci. Bahkan hampir semua warga Garut bisa membuat baso aci. Ini membuktikan bahwa baso aci memang bagian dari identitas masyarakat Garut,” ungkapnya.

Untuk semakin memperkuat pelestarian kuliner lokal, Festival Baso Aci 2026 juga menghadirkan Lomba Kreasi Baso Aci yang melibatkan berbagai organisasi perempuan di Kabupaten Garut.

Menurut Dhani, keterlibatan kaum ibu menjadi simbol penting karena mereka memiliki peran besar dalam menjaga dan mewariskan kekayaan kuliner kepada generasi berikutnya.

“Semangat itulah yang membuat kami terus menggelar Festival Baso Aci setiap tahun. Tahun ini kami mengajak organisasi-organisasi perempuan mengikuti lomba kreasi baso aci karena makanan ini harus terus dilestarikan,” tandasnya.

Dengan puluhan tenant kuliner, beragam kegiatan kreatif, serta dukungan pemerintah daerah, Festival Baso Aci 2026 diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata kuliner, tetapi juga menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi, memperkuat eksistensi UMKM, sekaligus mengukuhkan Baso Aci Garut sebagai ikon kuliner kebanggaan Kabupaten Garut yang layak dikenal hingga tingkat nasional.(**)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *