Berita-24today.co.id ||JAKARTA – Fenomena perubahan warna air laut di pesisir Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, terus meluas. Setelah pertama kali terlihat di kawasan Desa Jikotamo, Dermaga Jojame, dan Anggai, kondisi serupa kini juga terjadi di perairan Desa Madapolo, Kecamatan Obi Utara.
Menurut keterangan warga, perubahan warna air menjadi hijau pekat bercampur noda kecokelatan itu telah berlangsung sekitar sepekan. Dalam kurun waktu yang sama, sejumlah ikan budidaya dilaporkan mati di beberapa lokasi sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas perairan.
Menanggapi hal itu, Guru Besar Manajemen Kesehatan Ikan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Prof. Muhammad Aris, mengatakan gejala tersebut lebih mengarah pada fenomena alam yang dipicu oleh musim kemarau, bukan serta-merta disebabkan aktivitas industri pertambangan.
Menurut Prof. Aris, apabila pencemaran berasal langsung dari kawasan industri tambang yang berada di wilayah selatan Pulau Obi, maka penyebaran dampaknya seharusnya mengikuti arah perairan di sekitar lokasi tambang. Namun, fakta di lapangan menunjukkan perubahan warna air justru lebih dominan terjadi di wilayah utara.
“Kalau dikaitkan langsung dengan aktivitas industri tambang, secara lokasi kurang tepat karena kawasan tambang berada di arah selatan, sedangkan fenomena ini berkembang di wilayah utara,” ujar Aris dalam keterangan tertulisnya, Kamis (6/8/2026).
Ia menjelaskan, musim kemarau yang disertai kenaikan suhu perairan sekitar dua derajat Celsius dapat memicu blooming fitoplankton atau ledakan populasi plankton. Setelah mencapai puncak pertumbuhan, plankton akan mati secara massal dan memengaruhi kualitas air.
Proses pembusukan plankton tersebut menghabiskan oksigen terlarut di dalam air atau menyebabkan kondisi anoksia. Selain itu, proses tersebut juga menghasilkan gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida. Dampaknya, air berubah menjadi hijau pekat, mengeluarkan bau tidak sedap, dan memicu kematian ikan.
“Ketika plankton mati dalam jumlah besar, kandungan bahan organik meningkat. Proses penguraiannya menghabiskan oksigen sehingga ikan kekurangan oksigen dan muncul gas beracun yang menimbulkan bau menyengat,” jelasnya.
Prof. Aris mengungkapkan bahwa beberapa bulan lalu dirinya pernah melakukan pengamatan kualitas perairan di wilayah Obi Selatan. Dari hasil pengamatan tersebut belum ditemukan indikasi pencemaran maupun penurunan kualitas air yang signifikan.
“Apabila pencemaran berasal dari logam berat akibat aktivitas pertambangan, karakteristiknya tentu berbeda. Logam berat umumnya akan mengendap di dasar perairan dan tidak secara langsung menyebabkan perubahan warna air menjadi hijau pekat seperti yang terjadi pada fenomena ledakan plankton,” ungkapnya.
Selain menyoroti faktor alam, Prof. Aris juga mengkritisi minimnya pembinaan sektor budidaya perikanan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku Utara. Menurutnya, sektor budidaya selama ini belum mendapatkan perhatian yang memadai, baik dalam bentuk pelatihan teknis maupun upaya mitigasi menghadapi perubahan kualitas lingkungan perairan.
“Perhatian DKP Provinsi hanya terpusat pada perikanan tangkap. Budidaya ikan terus terpinggirkan, padahal masyarakat Obi membutuhkan pembinaan dan pelatihan untuk menghadapi perubahan lingkungan perairan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Aris menekankan pentingnya penerapan teknik budidaya yang tepat. Penempatan keramba atau media pemeliharaan ikan di lokasi dengan sirkulasi air yang buruk, termasuk terlalu dekat dengan kawasan permukiman, dapat mempercepat penumpukan bahan organik.
“Kondisi tersebut berpotensi memperparah penurunan kualitas air, terutama saat musim kemarau, sehingga meningkatkan risiko kematian ikan,” imbuhnya.













