banner 728x250

“Sekolah Aman, Anak Nyaman: DPPKBPPPA Garut Perkuat Edukasi Pencegahan Kekerasan di SMPN 2 Garut”

IMG 20260713
banner 468x60

Berita-24today.co.id || GARUT – Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Garut, Yayan Waryana, memberikan apresiasi kepada SMP Negeri 2 Garut yang mengangkat tema “Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Satuan Pendidikan” dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dan menjadi langkah strategis dalam membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak.

Yayan menegaskan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang yang harus mampu menjamin perlindungan, rasa aman, dan penghormatan terhadap hak-hak setiap peserta didik.

Example 300x600

Yayan menegaskan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang yang harus mampu menjamin perlindungan, rasa aman, dan penghormatan terhadap hak-hak setiap peserta didik.

“Memasuki jenjang SMP merupakan awal perjalanan baru bagi para siswa. Mereka akan bertemu teman baru, guru baru, serta lingkungan belajar yang berbeda. Karena itu, penting bagi seluruh warga sekolah untuk membangun budaya saling menghormati, saling menghargai, dan saling menjaga agar tidak terjadi tindakan yang dapat menyakiti orang lain,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan tidak selalu berbentuk tindakan fisik. Kekerasan juga dapat muncul dalam bentuk perundungan (bullying), ejekan, penghinaan, pengucilan, pelecehan, hingga kekerasan digital melalui media sosial yang saat ini semakin sering terjadi di kalangan remaja.

Menurut Yayan, berbagai bentuk kekerasan tersebut dapat meninggalkan dampak psikologis yang serius terhadap korban, mulai dari menurunnya rasa percaya diri, terganggunya kesehatan mental, hingga menurunnya prestasi belajar.

Menurut Yayan, berbagai bentuk kekerasan tersebut dapat meninggalkan dampak psikologis yang serius terhadap korban, mulai dari menurunnya rasa percaya diri, terganggunya kesehatan mental, hingga menurunnya prestasi belajar.

Adapun bentuk-bentuk kekerasan yang harus diwaspadai di lingkungan sekolah meliputi:

*Perundungan atau bullying.

*Ejekan dan penghinaan.

*Kekerasan fisik.

*Pengucilan terhadap teman.

*Pelecehan atau tindakan yang tidak pantas.

*Kekerasan digital melalui pesan, komentar, maupun unggahan di media sosial.

“Perlu diingat, tidak ada satu pun alasan yang membenarkan kekerasan terhadap anak. Setiap anak memiliki hak untuk belajar dalam suasana yang aman, nyaman, dan dihargai martabatnya,” tegasnya.

Melalui momentum MPLS, DPPKBPPPA Garut mengajak seluruh warga sekolah untuk menjadi pelopor dalam mewujudkan Sekolah Ramah Anak. Yayan mengajak peserta didik agar menumbuhkan empati, kepedulian, serta keberanian untuk menolak segala bentuk kekerasan.

Ia juga mengingatkan agar siswa tidak memilih diam ketika melihat adanya tindakan perundungan.

“Apabila melihat atau mengalami bullying, segera laporkan kepada guru, wali kelas, guru BK, atau pihak sekolah. Jangan takut untuk berbicara karena melaporkan tindakan kekerasan merupakan bentuk keberanian dalam melindungi diri sendiri maupun teman,” pesannya.

Selain itu, Yayan mengajak para siswa menggunakan media sosial secara bijak. Menurutnya, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk hal-hal positif, bukan menjadi sarana menyebarkan ujaran kebencian, fitnah, penghinaan, ataupun konten yang dapat melukai perasaan orang lain.

Ia juga mendorong peserta didik untuk membangun pertemanan tanpa membedakan suku, agama, kemampuan, kondisi ekonomi, maupun latar belakang keluarga.

“Rangkul teman-teman yang berbeda. Hormati setiap perbedaan karena keberagaman adalah kekuatan. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang dipenuhi rasa saling menghormati dan saling mendukung,” katanya.

Yayan menambahkan bahwa keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari prestasi akademik semata, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari kekerasan.

Karena itu, ia berharap para guru dan tenaga kependidikan terus memperkuat pengawasan, pendampingan, pendidikan karakter, serta membangun komunikasi yang baik dengan peserta didik agar setiap anak merasa terlindungi dan nyaman selama berada di sekolah.

Kepada seluruh peserta didik baru, Yayan berpesan agar menjadi generasi yang berani berbuat baik, santun dalam bertutur kata, serta peduli terhadap sesama.

“Jangan menjadi pelaku kekerasan, jangan pula menjadi penonton yang diam. Jadilah bagian dari solusi. Jadilah generasi yang mampu menciptakan lingkungan sekolah yang damai, saling menghargai, dan penuh kasih sayang,” ujarnya.

Ia menutup pesannya dengan mengajak seluruh warga sekolah mewujudkan semangat bersama melalui slogan:

“Sekolah Aman, Anak Nyaman, Prestasi Gemilang.”

“Stop Perundungan, Stop Kekerasan, Wujudkan SMPN 2 Garut sebagai Sekolah Ramah Anak.”

Melalui edukasi tersebut, DPPKBPPPA Kabupaten Garut berharap kegiatan MPLS tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi fondasi pembentukan karakter peserta didik yang cerdas, berakhlak mulia, menghormati hak asasi sesama, serta mampu menciptakan budaya sekolah yang bebas dari segala bentuk kekerasan. Langkah ini sekaligus mendukung terwujudnya generasi muda Garut yang berkualitas, sehat, aman, dan siap menjadi penerus pembangunan daerah.

  • Penulis : Rus
  • Editor : S Erfan Nurali

Loading

banner 325x300
Penulis: Rus86
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *